Diskusi Publik Waroeng Rakyat Kupas Persoalan Pengolahan Sampah
KUNINGAN, (FC).- Isu lingkungan kembali menjadi sorotan dalam diskusi publik bertajuk “Kuningan Lestari: Asli atau Mimpi” yang digelar oleh Waroeng Rakyat di Saung Kopi Hawu, Jumat (1/11).
Acara ini menghadirkan perwakilan pemerintah daerah, akademisi dan aktivis lingkungan hidup yang membahas berbagai tantangan serta solusi menuju Kuningan yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.
Hadir sebagai narasumber, Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, Agus Susanto, mewakili Kepala Dinas LH Ir. Usep Sumirat.
Dalam paparannya, Agus menyebut bahwa persoalan sampah hingga kini masih menjadi pekerjaan besar yang perlu penanganan bersama.
“Kami terus berupaya menangani persoalan sampah dan selalu berkolaborasi dengan pemerintah desa agar sebagian dana desa bisa dialokasikan untuk pengelolaan sampah. Saat ini, program seperti TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) telah dijalankan sebagai solusi untuk meminimalisasi sampah dari hulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga mendorong adanya pengolahan sampah di tingkat awal agar tidak seluruhnya menumpuk di TPA.
“Harapannya, setiap desa memiliki sistem pengolahan sampah mandiri agar beban di hilir bisa berkurang,” katanya.
Sementara itu, Wina Waniatri, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan (FHut Uniku), menyampaikan pandangan dari sisi akademisi bahwa kunci keberhasilan pengelolaan lingkungan dimulai dari edukasi masyarakat di tingkat hulu.
“Yang paling utama adalah pemilahan sampah. Jangan sampai sampah organik dan anorganik dicampur, karena sampah organik yang menumpuk di TPA bisa menghasilkan gas metana (CH₄) yang berkontribusi pada pemanasan global,” jelasnya.
Menurut Wina, pengelolaan sampah bukan hanya isu lokal, tetapi juga bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang harus diupayakan bersama.
“Sampah anorganik bisa bernilai ekonomi, sedangkan organik bisa dijadikan kompos atau biopori. Bahkan minyak jelantah bisa dimanfaatkan kembali menjadi aroma terapi,” ungkapnya.
Ia menegaskan, hal terpenting adalah perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup berkelanjutan.
“Kalau bisa, kita tidak hanya mengelola sampah, tapi juga mulai belajar untuk tidak menghasilkan sampah baru,” tegas Wina.
Diskusi yang berlangsung santai namun sarat makna ini menjadi refleksi bersama tentang bagaimana mewujudkan cita-cita “Kuningan Lestari”. Para peserta sepakat, menjaga lingkungan bukan sekedar slogan, melainkan komitmen bersama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.(Angga/Job/FC)








Tinggalkan Balasan