Di Kuningan, HIV/AIDS Tembus 1.500 Kasus, Pelajar Diminta Waspada
KUNINGAN, (FC).- Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kuningan masih menjadi perhatian serius. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kuningan mengungkapkan, jumlah kumulatif orang yang terpapar HIV/AIDS di daerah tersebut kini telah mencapai sekitar 1.500 orang.
Hal itu disampaikan Asep Susan Sonjaya Suparman, S.Kom., yang akrab disapa Asep Papay, Ketua KPA Kabupaten Kuningan, usai memberikan edukasi dalam kegiatan sosialisasi pencegahan bullying bertema “Teman Bukan Lawan, Ciptakan Sekolah Tanpa Bullying” di Aula SMPN 1 Cilimus, Rabu (19/8).
Sosialisasi tersebut digelar mahasiswa KKN UNISA Kelompok 03 Desa Bojong, Kecamatan Cilimus, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai lembaga untuk memberikan edukasi kepada para pelajar.
Asep Papay mengatakan, angka kasus HIV/AIDS di Kuningan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Setiap tahun, penemuan kasus baru disebut mencapai lebih dari 100 orang.
“Setiap tahunnya dari Januari sampai Desember itu penemuan kasus baru lebih dari 100 orang. Itu sangat mengkhawatirkan. Tiap tahun meningkat dan kumulatif sudah lebih dari 1.400-an, sekarang sekitar 1.500 orang,” ujar Asep.
Menurutnya, peningkatan kasus tersebut cukup signifikan. Ia memperkirakan kenaikannya berada di kisaran 30 persen setiap tahun. Sementara untuk data terbaru tahun ini masih dalam proses pemutakhiran, namun sejak Januari hingga April telah ditemukan sejumlah kasus baru.
Kondisi tersebut, kata Asep, menjadi alasan penting mengapa edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, harus terus digencarkan.
Ia pun mengapresiasi kegiatan KKN UNISA yang menghadirkan narasumber dari BNN, KPA, dan UPTD PPA. Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan pengetahuan yang penting bagi pelajar.
“Hal yang positif memang harus terus digelorakan. KKN ini sangat bermanfaat untuk masyarakat, khususnya lingkungan sekitar. Adik-adik SMP mendapatkan edukasi dan pengetahuan baru dari berbagai narasumber,” katanya.
Asep berharap mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi terus menjadi agen perubahan dengan menyebarkan informasi yang benar kepada masyarakat.
“Ini sangat mengedukasi dan mencerahkan. Mudah-mudahan terus digelorakan oleh kawan-kawan mahasiswa sebagai agent of change,” ujarnya.
Asep Papay mengungkapkan, persoalan HIV/AIDS tidak hanya terjadi pada kelompok usia dewasa. Kasus juga ditemukan pada kalangan pelajar.
“Pelajar ada yang terpapar, SMP dan SMA juga ada,” ungkapnya.
Menurut Asep, fakta tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai perlindungan diri dan perilaku berisiko harus diberikan sejak usia sekolah.
Ia menilai upaya pencegahan tidak boleh menunggu seseorang memasuki usia dewasa. Pengetahuan yang benar sejak dini diharapkan dapat membantu remaja mengambil keputusan yang lebih aman dalam kehidupan sehari-hari.
Selain pelajar SMP dan SMA, Asep menyebut terdapat pula kasus pada anak usia sekolah dasar yang berkaitan dengan penularan dari ibu kepada anak.
Karena itu, deteksi dini terhadap ibu hamil menjadi salah satu langkah penting dalam memutus rantai penularan. Pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan maupun selama kehamilan dinilai dapat membantu menemukan risiko lebih awal.
Asep menegaskan, penanggulangan HIV/AIDS tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah. Menurutnya, seluruh stakeholder dan masyarakat harus mengambil peran untuk mewujudkan zero infection atau nol infeksi baru.
Pemerintah daerah bersama berbagai pihak selama ini telah menjalankan upaya promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Namun, menurut Asep, langkah tersebut membutuhkan dukungan masyarakat.
“Ini bukan tanggung jawab hanya pemerintah daerah. Ini tanggung jawab kita bersama untuk zero infection. Nol infeksi menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, Asep mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun mengucilkan orang yang telah terpapar HIV/AIDS.
Menurutnya, orang yang terpapar tetap dapat hidup sehat, produktif, dan berdaya selama mendapatkan penanganan serta dukungan yang tepat.
“Jangan sampai yang tidak terpapar memberikan stigma, jangan sampai mengucilkan, karena AIDS itu bisa dikendalikan,” katanya.
Untuk menekan risiko penularan HIV/AIDS, Asep mengingatkan masyarakat agar menghindari perilaku berisiko. Ia menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan dan tidak menggunakan narkoba suntik secara bergantian.
“Harus setia pada pasangan dan jangan pernah memakai narkoba suntik, khususnya berbagi pakai jarum suntik,” pesannya.
Sementara kepada mereka yang telah terpapar, Asep mengimbau agar tetap menjaga kesehatan serta tidak memiliki niat untuk menularkan kepada orang lain.
“Yang terpapar tetap sehat, jaga kesehatan, jaga pola kesehatan, dan jangan sampai ada niat untuk menularkan,” pungkasnya. (Angga)








Tinggalkan Balasan