Demo di Majalengka Memanas, Massa Bakar Ban Depan Gedung DPRD
MAJALENGKA,(FC), – Suasana aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kabupaten Majalengka, Senin (1/9), sempat memanas. Massa yang berjumlah sekitar 300 orang, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat, mulai membakar ban bekas tepat di depan pintu gerbang DPRD. Asap hitam pekat pun mengepul, menambah ketegangan di kawasan pusat kota Majalengka.
Sejak pagi, massa sudah berkumpul di Bundaran Munjul.
Dari titik itu, mereka berjalan kaki menyusuri jalur protokol menuju Alun-alun Majalengka.
Arak-arakan mahasiswa dan masyarakat membawa spanduk, poster, serta bendera organisasi, sambil terus meneriakkan yel-yel dan orasi.
Mereka sempat melewati Pendopo Bupati sebelum akhirnya terkonsentrasi di depan Gedung DPRD sekitar pukul 13.30 WIB.
Sepanjang perjalanan, orasi bergantian terus berkumandang.
Setibanya di depan DPRD, gelombang aspirasi semakin lantang, mulai dari evaluasi kinerja DPRD Majalengka, kritik terhadap DPR RI yang dianggap gagal memperjuangkan rakyat, hingga seruan agar aparat tidak bersikap represif.
“Suara rakyat tidak boleh dibungkam,! Kami hadir untuk menyampaikan tuntutan rakyat,” teriak Basyir seorang orator dari atas mobil komando yang langsung disambut sorakan massa.
Sekitar pukul 15.00 WIB, aksi mulai diwarnai dengan pembakaran ban. Asap tebal menutupi jalanan depan DPRD.
Sementara massa terus berorasi dengan suara yang kian membakar semangat peserta aksi.
Kepadatan massa membuat sebagian jalan protokol ditutup.
Arus lalu lintas kendaraan terpaksa dialihkan, sehingga jalur utama menuju pusat kota Majalengka mengalami kemacetan cukup panjang.
Hingga pukul 15.15 WIB, massa masih bertahan di depan Gedung DPRD. Suasana semakin riuh dengan orasi, teriakan yel-yel, serta nyanyian yang bergema di tengah asap ban terbakar.
Gelombang aksi ini menjadi salah satu demonstrasi terbesar di Majalengka sepanjang tahun, dengan sorotan utama pada kinerja DPRD, DPR, dan sikap aparat dalam mengawal aspirasi rakyat.
Sampai berita ini ditulis, massa masih melakukan aksi. Mereka menuntut agar suara dan aspirasi rakyat dapat di dengar oleh wakil rakyat tang ada di DPRD Majalengka.
Sejumlah awak media masih mencari narasumber dari pimpinan dan anggota DPRD Majalengka, namun belum juga membuahkan hasil. (Munadi)








Tinggalkan Balasan