DEEP Soroti Jejak Sejarah Tugu Bola Dunia
KUNINGAN, (FC).- Perubahan konsep Tugu Bola Dunia di Jalan Soekarno-Hatta, Kabupaten Kuningan, mendapat sorotan dari Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Kuningan.
Organisasi tersebut mengingatkan agar penataan ikon daerah tetap memperhatikan nilai sejarah yang melekat di tengah masyarakat.
Tugu yang selama ini dikenal dengan slogan “Kuningan Bangkit” tersebut kini mulai ditata dengan konsep baru berupa tugu kuda yang direncanakan membawa slogan “Kuningan Melesat.”
Bagi DEEP Kuningan, perubahan tersebut bukan hanya persoalan tampilan fisik, tetapi juga menyangkut jejak pembangunan daerah yang telah menjadi bagian dari memori masyarakat.
Habib dari DEEP Kuningan mengatakan, setiap ikon yang dibangun pemerintah memiliki cerita dan konteks sesuai zamannya. Karena itu, perubahan sebuah simbol daerah perlu dilakukan dengan tetap menghargai nilai historis yang ada.
“Kalau memang mau membuat tugu baru, minimalnya di lokasi yang baru. Jangan sampai menghilangkan jejak sejarah pembangunan yang ada,” ujarnya.
Menurut Habib, Tugu Bola Dunia dan slogan “Kuningan Bangkit” merupakan salah satu penanda pembangunan Kabupaten Kuningan pada masa pemerintahan almarhum Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda.
Ia menilai keberadaan tugu tidak hanya sebatas bangunan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan pembangunan dan identitas daerah.
“Setiap pemerintahan memiliki karya dan kontribusinya masing-masing. Jangan sampai ketika ada konsep baru, kemudian jejak pembangunan sebelumnya justru hilang,” katanya.
Habib menilai konsep ikon baru dengan simbol kuda tetap dapat menjadi representasi pembangunan Kuningan saat ini tanpa harus menghapus keberadaan simbol sebelumnya.
Selain aspek sejarah, DEEP Kuningan juga menyoroti penggunaan anggaran dalam penataan tersebut.
Berdasarkan dokumen Uraian Pekerjaan Penataan Tugu Bola Dunia Jalan Soekarno-Hatta Tahun Anggaran 2026, pekerjaan menggunakan APBD melalui DPA Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Kuningan dengan pagu anggaran Rp200 juta.
Pekerjaan tersebut meliputi penataan plang nama slogan, pekerjaan tugu, perbaikan trotoar, serta sejumlah pekerjaan pendukung lainnya di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, dengan masa pelaksanaan 60 hari kalender.
DEEP berharap pembangunan ruang publik ke depan tidak hanya berorientasi pada perubahan tampilan, tetapi juga memperhatikan nilai sejarah, identitas daerah, serta manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Jangan sampai pembangunan hari ini justru menghapus sejarah pembangunan sebelumnya. Setiap era memiliki cerita dan kontribusinya masing-masing,” pungkas Habib. (Angga)








Tinggalkan Balasan