KAB.CIREBON, (FC).- Perjalanan hidup Taufik Hidayat menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir dari perjuangan.

Pernah terpuruk setelah gagal dalam Pemilihan Kuwu (Pilwu) 2019 hingga harus berjualan bakso pentol untuk bertahan hidup, kini Taufik dipercaya masyarakat untuk memimpin Desa Kendal, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon sebagai Kuwu Pengganti Antar Waktu (PAW).

Taufik kini tinggal menunggu hari pelantikannya sebagai Kuwu PAW Desa Kendal yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Agustus 2026 oleh Bupati Cirebon, H. Imron.

“Insya Allah saya siap menjalankan amanah masyarakat. Mohon doa agar pelantikan berjalan lancar dan saya bisa bekerja maksimal untuk kemajuan Desa Kendal,” ujar Taufik kepada Fajar Cirebon (FC), Jumat (24/7).

Sebelum sampai pada titik tersebut, Taufik harus melewati perjalanan hidup yang penuh liku. Ia mengaku sempat mengalami masa sulit setelah gagal dalam Pilwu serentak tahun 2019.

Kegagalan itu membuat kondisi ekonominya terpuruk hingga harus kehilangan hampir seluruh aset yang dimiliki.

Bahkan, rumah yang ditempatinya terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Kegagalan itu justru menjadi pelajaran terbesar dalam hidup saya. Dari sana saya belajar untuk bangkit dan tidak menyerah,” katanya.

Dalam kondisi serba terbatas, Taufik memilih mencari jalan keluar dengan cara yang sederhana.

Ia mengontrak rumah di Desa Ender, Kecamatan Pangenan, kemudian mulai berjualan bakso pentol di sekitar Pondok Pesantren Gedongan.

“Saya memulai semuanya dari nol. Yang penting pekerjaan itu halal dan bisa menghidupi keluarga,” tuturnya.

Setiap hari, gerobak bakso pentol menjadi sumber penghidupannya. Pelanggan utamanya berasal dari kalangan santri dan pelajar.

Meski beberapa warga masih mengenal dirinya sebagai mantan calon kuwu, Taufik tidak pernah merasa rendah diri dengan pekerjaannya.

Baginya, berdagang bukan sesuatu yang memalukan. Justru dari sana ia belajar arti melayani masyarakat.

“Saya tidak pernah malu berjualan bakso. Melayani pembeli juga bagian dari melayani masyarakat,” ungkapnya.

Perjalanan panjang itu akhirnya membawa Taufik kembali ke Desa Kendal. Dukungan masyarakat mengantarkannya terpilih sebagai Kuwu PAW dan dipercaya mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin desa.

Menurutnya, menjadi pedagang maupun seorang kuwu memiliki nilai yang sama, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada orang lain.

“Kalau dulu saya melayani masyarakat dari balik gerobak bakso, sekarang saya melayani dari balik meja kantor desa,” ujarnya.

Sebagai pemimpin baru Desa Kendal, Taufik berkomitmen menghadirkan pelayanan pemerintahan yang cepat, ramah, dan berpihak kepada masyarakat.

Ia ingin pengalaman hidup yang pernah dilaluinya menjadi bekal dalam menjalankan amanah sebagai kuwu.

“Prinsipnya sama seperti saat melayani pembeli bakso, harus ramah, jujur, dan ikhlas. Itu yang akan saya terapkan dalam melayani masyarakat,” pungkasnya. (Nawawi)