KAB. CIREBON, (FC).- Pegiat Budaya Cirebon, sekaligus pendiri Kendi Pertula, R Chaidir Susilaningrat ikut angkat bicara terkait Hari Jadi Cirebon.

Dia mengungkapkan bahwa Hari Jadi Kota Cirebon dulunya saat pemerintahan kota praja pada masa pendudukan Belanda diperingati setiap tanggal 1 April.

Saat itu, kata dia, ada 6 kota kolonial yang ditetapkan hari jadinya pada 1 April 1906 oleh Gubernur Belanda saat itu.

“Ada kira-kira enam kota kolonial yang diresmikan oleh Gubernur Belanda sebagai Haminte, yaitu Kota pada tanggal 1 April 1906. Kami di komunitas Kendi Pertula ada dokumennya,” jelas Khaidir.

Ia mengungkapkan hal itu berdasarkan bukti dokumen yang dimiliki komunitas Kendi Pertula, yakni sebuah buku peringatan Ulang Tahun Perak Haminte Cirebon.

“Waktu itu kami membahas sebuah buku yang judulnya Haden Buuk Der Haminte Cirebon. Ternyata buku ini buku kenang-kenangan ulang tahun perak Haminte Cirebon atau Kota Praja Cirebon. Walikota itu dulu jabatannya Berhemister Cirebon, dan Walikotanya pasti orang Belanda,” katanya

Berdasarkan bukti dokumen buku tersebut dia menyimpulkan bahwa Kota Cirebon setiap tanggal 1 April itu merayakan hari jadinya.

“Disitu, saya dan teman-teman Kendi Pertula semakin yakin bahwa Cirebon dilahirkan sebagai kota kolonial. Saya cek ke Semarang, dan Semarang juga pakainya 1 April, Bogor 1 April juga, karena mereka satu SK. Ternyata, semua kota-kota kolonial itu SK nya tanggal 1 April,” ungkapnya.

Bahkan, pihaknya juga menemukan buku ulang tahun emas atau ulang tahun ke-50 tanggal 1 April 1956 yang isinya semakin menguatkan bukti dokumen hari jadi tersebut.

Pada ulang tahun ke-50 tersebut, lanjutnya, sudah pemerintahan Republik Indonesia.

Dari sini pihaknya menyimpulkan bahwa ketika itu ulang tahun kota Cirebon diperingati sebagai hari lahirnya pemerintahan kota Cirebon sebagai pemerintahan modern.

Sementara, disisi lain, di Keraton Kanoman, ada adat tradisi keraton yang diperingati tiap 1 Muharram.

“Disitu ada pembacaan babad untuk mengenang jasa-jasa Pangeran Cakrabuana,” jelas Chaidir

Pembacaan babad tersebut mengundang bupati Cirebon, Walikota Cirebon, Bupati Kuningan, Bupati Majalengka, dan Bupati Indramayu.

“Diundang semua oleh Sultan, karena para pimpinan daerah ini perlu tahu asal usul wilayah Cirebon yang luas itu,” tambahnya

Singkat cerita, pada akhir tahun 1970an atau awal 1980an, ada perintah dari Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat agar setiap daerah mempunyai hari jadi untuk diperingati.

“Dulu Provinsi itu Daerah Tingkat I, karena atasannya kabupaten,” jelasnya

Kebijakan Gubernur tersebut dimaksudkan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan setiap daerah. Dulu, setiap daerah diadakan pameran pembangunan setiap kegiatan hari jadinya.

Dari kebijakan Gubernur itu, kata Chaidir, akhirnya Kota Cirebon menetapkan hari jadinya pada 1 Muharram.

Sedangkan, kabupaten Cirebon berencana akan gabung dengan kota cirebon peringatan hari jadinya. Namun bupati kala itu menolak tegas, dan menyatakan jangan sama dengan kota cirebon.

Karena kota lebih muda dari kabupaten Cirebon, karena bupati pertama 1800, sedangkan walikota pertama 1906.

“Saat itu msih banyak yang lebih penting daripada mikir hari jadi. Lebih pebnting urus masyaraat,” tiru Chaidir ucapan Bupati Memet Tohit.

Tahun berganti, waktu berlalu sampailah kepada Bupati Sutisna, tidak begitu saja dan menindaklanjuti Cirebon yang belum punya tanggal hari ulang tahun kabupaten cirebon.

Menurutnya, mau ikut ulang tahun daerah lain, atau sendiri. Akhirnya pada tahun 1987 memerintahkan tim dan ahli sejarah dan lainnya, jangan sampai Kabupaten Cirebon lebih muda dari daerah lainya.

“Jadi akhirnya tim budayawan dan sejarawan berembuk, Bersepakat Kabupaten Cirebon merdeka dari pajajaran, ketika sunan gunung jati mengumumkan bahwa mulai hari ini kita putus hubnngan kekuasaan. Atau tidak lagi memngirimkan upeti ke kerajaan pajajaran. Dan itulah momentum Cirebon berdiri sendiri dan sebuah negara, itu ada teks proklamasinya dan dibacakan pada acara babad, tepatnya pada tanggal 12 safar 887 mengumumkan bukan lagi bawahannya, dengan segala resikonya. Itulah yang dijadiakan momen hari jadi kabupaten cirebon. Jangan pakai penaggalan hijriyah, klarena hijriyah selalu geser-geser waktunya, masehinya tetapkan di tanggal 2 April 1482 M sebagai Hari Jadi Kabnupaten Cirebon,” tandasnya. (Ghofar)