Bupati Majalengka Tinjau Abrasi Sungai Cimanuk di Desa Ampel, Relokasi Jadi Solusi Bagi Warga Yang Terdampak
MAJALENGKA, (FC).- Setelah viral di media sosial, Bupati Majalengka Eman Suherman akhirnya turun langsung meninjau lokasi abrasi Sungai Cimanuk di Desa Ampel, Kecamatan Ligung, Rabu (1/10).
Kondisi abrasi yang sudah berlangsung puluhan tahun itu kini semakin mengancam permukiman warga, sedikitnya 60 rumah terdampak dan sebagian besar di antaranya sudah tidak layak huni.
Dalam kunjungan itu, Bupati Eman tak kuasa menahan rasa haru. Ia mengaku baru mengetahui parahnya dampak abrasi setelah pemberitaan ramai diperbincangkan di media sosial.
“Saya benar-benar merasa sedih melihat kondisi masyarakat di sini. Seandainya tidak diberitakan, mungkin saya tidak akan tahu. Padahal sejak pilkada 2024 saya sudah pernah ke Ampel, tapi tidak ada laporan mengenai abrasi ini,” ujarnya.
Eman menegaskan bahwa pemerintah daerah harus hadir memberi solusi nyata. Menurutnya, tidak mungkin melakukan perbaikan rumah di lokasi yang tanahnya sudah tergerus air sungai.
“Kalau dipaksakan membangun di lahan rawan abrasi, tentu berbahaya. Karena itu ada dua pola yang kita siapkan. Pertama, relokasi bagi warga yang rumahnya sudah hancur atau terancam parah. Kedua, bagi yang masih jauh dari titik abrasi, kita bisa bantu perbaikan rumahnya,” jelasnya.
Pemkab Majalengka juga akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, untuk memperkuat tanggul dan menahan laju abrasi. BBWS, kata Eman, telah menyatakan kesiapannya untuk melakukan penanganan darurat dengan dukungan dana dari Asian Development Bank (ADB).
“Kami juga akan mengajukan bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta. Jangan sampai ditunda, karena musim hujan sebentar lagi bisa memperburuk keadaan,” tegasnya.
Bupati menambahkan, pihak kecamatan dan desa diminta segera membentuk tim pendataan untuk menentukan jumlah pasti warga yang harus direlokasi. Lokasi relokasi pun tengah dipertimbangkan agar tidak jauh dari Desa Ampel, sesuai keinginan masyarakat.
“Ada tanah milik warga di sebelah timur desa yang kemungkinan bisa dibeli pemerintah untuk relokasi. Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi terbaik,” ucap Eman.
Dengan rencana relokasi dan perbaikan tanggul, Bupati Eman berharap persoalan abrasi di Ampel dapat tertangani dalam waktu dekat.
“Target saya, tahun 2026 rumah-rumah warga yang direlokasi sudah bisa dibangun. Ini bukan hanya soal bangunan, tapi menyangkut rasa aman masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ampel R.Opendi, menyampaikan apresiasi atas kedatangan Bupati. Ia menuturkan, sejak menjabat pada 1998, baru kali ini ada bupati yang datang meninjau langsung abrasi Sungai Cimanuk di wilayahnya.
“Setiap tahun kami selalu melaporkan dampak abrasi, tapi tidak pernah ada tindak lanjut. Alhamdulillah sekarang Pak Bupati langsung datang dan meninjau. Harapan kami, solusi yang ditawarkan bisa segera direalisasikan, karena ada sekitar 60 rumah yang sudah menjadi korban,” ungkapnya.
Kades Opendi menambahkan, masyarakat Ampel selama ini hanya bisa pasrah menghadapi bencana abrasi. Beberapa warga bahkan sudah kehilangan tempat tinggal, sementara lainnya masih bertahan di rumah yang setengah bangunannya tergerus air. “Kami berharap pemerintah segera menyiapkan relokasi agar warga tidak lagi hidup dalam ketakutan setiap kali musim hujan tiba,” katanya.
Abrasi Sungai Cimanuk di Desa Ampel sendiri bukanlah hal baru. Sejak akhir 1990-an, erosi tebing sungai secara perlahan menggerus lahan pertanian dan permukiman. Aktivitas galian pasir di masa lalu diduga memperparah kondisi, ditambah debit air sungai yang semakin besar. Kini, jarak aman permukiman dengan bibir sungai kian menipis, sehingga membahayakan keselamatan warga. (Munadi)








Tinggalkan Balasan