Boy: Bupati dan Wakil Harus Turunkan Tensi Ego
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KUNINGAN, (FC).- Keretakan rumah tangga Bupati dan Wakil Bupati Kuningan mendapat tanggapan dari Pengamat Kuningan Boy Sandi Kartanegara. Dia berharap kedua belah pihak harus menurunkan tensi ego dan bersabar.
“Bagi saya pasangan K1 dan K2 ini kan seperti pasangan suami-istri yg terlepas dari kawin sukarela atau kawin paksa, mereka terikat dalam sumpah perkawinan yang sah. Sangat wajar jika dalam proses berumah tangga pasti ada saja persoalan yang akan muncul, namun sebagai pasangan yang sudah dewasa karena berani menikah maka setiap persoalan yang muncul harus dihadapi secara dewasa, tak perlu memusingkan orang tua, mengganggu mertua apalagi sampai harus koar-koar ke tetangga,” ungkap Boy, Senin (15/3).
Kembali ke soal relasi K1 dan K2, lanjut Boy, itu merupakan sebuah dinamika saja. Dalam pemahaman pibadi, Politik adalah seni merebut dan mempertahankan kekuasaan.
Pasangan AR sudah berjuang untuk meraih itu, ketika sudah berkuasa pasti akan muncul komposisi pembangian kewenangan yang sudah diatur dalam perundangan.
“Kan harusnya tak perlu ada persengketaan jika aturan jadi patokan,” sindir Boy.
Menurut Boy, masih banyak hal urgen yang harusnya dipikirkan, dirumuskan dan dilakukan oleh mereka daripada sekedar berselisih soal wenang tadi. Baginya pekerjaan rumah Kuningan masih banyak yang harus diselesaikan.
“Dan hanya spirit kolaborasilah yg paling memungkinkan untuk menuntaskan visi misi yang mereka janjikan kepada Rakyat. Soal kompetisi, itu soal nanti. Ada ruangnya ada waktunya. Saya melihat sejak jaman Pa Aang-Aan Suharso, Pasangan Arroman, dinamika relasi Bupati-Wakil Bupati selalu terjadi. Tapi ruang fair untuk menyelesaikan disharmonisasi tadi dituntaskan di Pilkada,” jelas Boy.
Maka dari itu, Boy berharap kepada pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kuningan untuk fokus dengan agenda-agenda pembangunan yang sudah direncanakan.
Biarlah hingar bingar keretakan itu jadi bumbu bagi perjalanan karir mereka, hingga tiba saat yang paling tepat untuk memutuskan apakah perlu dilanjut berdampingan atau saling berhadapan pada saatnya di Pilkada mendatang.
“Jangan sampai situasi ini mengganggu, menghambat dan merusak agenda pembangunan daerah yang kita cintai ini. Tanah Kuningan yang kita pijak, air Kuningan yang kita minum dan udara segar Kuningan yang kita hirup harus kita bayar dengan ikhtiar menjaga Kuningan dari segala potensi kerusakan yang bakal muncul. Ketika membangun tak mampu, maka jangan rusak apa yang sudah dibangun,” ungkap Boy. (Ali)








Tinggalkan Balasan