Setelah 5 Hari Koma di RS Gunung Jati, Bocah Korban Gigitan Ular Akhirnya Meninggal
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KESAMBI, (FC).- Adila Oktavia (4) warga Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon korban gigitan ular yang dirawat intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Kota Cirebon meninggal dunia.
“Betul Pasien korban gigitan ular meninggal dunia,” kata Direktur RSD Gunung Jati, dr. Ismail Jamaludin melalui pesan singkat WhatsAppnya, kepada FC, Rabu (12/2) malam.
Dikatakan Ismail, Adila Oktavia menghembuskan nafas terakhir pada Rabu (12/2) tepatnya pukul 20.23 WIB. Menurutnya, perawatan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit sudah sangat maksimal, bahkan pihaknya harus menurunkan 6 orang tenaga medis untuk merawat Adilia
Wakil Direktur RSD Gunung Jati, dr Maria pernah mengatakan, rumah sakit sudah mendatangkan pakar Snake Bites dan juga perwakilan dari WHO dr Tri Maharani. Namun takdir berkata lain, Adilia harus kembali kepangkuan yang maha kuasa karena tidak sanggup melawan bisa racun ular yang menggigitnya.
Kesulitan yang ditemui oleh pihak Rumah Sakit Gunung Jati adalah karena masih belum bisa mengidentifikasi jenis ular yang menggigit Adilia. Walaupun secara umum jenis ular yang menggigit adalah ular Weling, namun dr Maria belum bisa memastikan jenis anti bisa ular yang akan digunakan.
Adilia harus berjuang selama 6 hari melawan kritis diruang PICU akibat gigitan ular berbisa. Dan hari ini (Rabu malam) Adilia harus meninggal dunia dalam usia 4 tahun.
Sebelumnya, pada Jumat (7/2) yang lalu Adilia Oktavia digigit ular berbisa Jenis Bungarus (Weling) pada bagian telapak kaki dirumahnya di Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon hingga menyebabkan koma.
Menurut Ibu korban Rus, Adilia digigit ular saat sedang tertidur lelap disampingnya. Korban oleh pihak keluarga dibawa terlebih dahulu di Rumah Sakit Putera Bahagia. Namun karena perlatan yang tidak memadai dan tidak mempunyai anti bisa ular maka korban dibawa ke Rumah Sakit Gunung jati.
Sesampainya di RSD Gunung Jati, korban langsung diberikan perawatan instensif dan dimasukan kedalam ruang PICU dalam keadaan koma.
Ibu Korban mengakui, rumahnya sangat dekat sekali dengan area perkebunan dan sawah tak ayal kemunculan ular pun sering ditemui warga sekitar namun bisa-nya tidak sekuat yang mematuk Adila. Lima hari sudah, Adila anak perempuan berusia 4 tahun, warga Desa Pamengkang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, mengalami koma akibat digigit ular berbisa. Saat ini anak tersebut masih dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSD Gunung Jati, Kota Cirebon.
Digit Sedang Tidur
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Enny Suhaeni mengatakan peristiwa nahas yang menimpa anak itu terjadi pada Sabtu (7/2). Enny menyebutkan bagian telapak kaki anak itu dipatuk ular.
“Kronologi korban tergigit ular berbisa itu saat korban sedang tidur. Sang ibu baru mengetahui ular mengigit kaki anaknya itu saat hendak menggantikan celana anaknya,” kata Enny Suhaeni.
Mengetahui kejadian tersebut, lanjut Enny, sang ibu bergegas membawa anaknya ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi, karena perlengkapan medis tak memadai pihak rumah sakit langsung merujuknya ke RSD Gunung Jati untuk mendapat pertolongan pertama.
“Dokter sudah memberikan obat anti serum sebanyak 10 vial. Dengan tujuan, racun hemotoxin ular tidak menjalar ke tubuh korban, tapi belum ada tanda-tanda. Mudah-mudahan ada perkembangan menggembirakan,” harapnya.
Untuk mengantisipasi itu semua, masih kata Enny, pihaknya selalu sedia bahkan dinas mempunyai 100 vial serum anti bisa ular (SABU) dan tersimpan di gudang farmasi.
“Di 60 Puskesmas kami juga ada serum anti bisa ular tersebut,” imbuhnya.
Dikatakan Enny, Adila telah mendapat perhatian khusus dari 3 dokter spesialis yang menanganinya. Bahkan kemarin RSD kedatangan dokter dari perwakilan WHO (Kemenkes) dan menyampaikan bahwa bisa ular-nya belum terdeteksi dan sudah konsultasi ke Thailand dan Australia untuk pengobatan selanjutnya.
“Jika sudah menemukan obatnya untuk Adila, maka dokter perwakilan dari WHO ini akan datang lagi ke Cirebon,” ucapnya.
Saat disinggung mengenai biaya pengobatan Adila, pihaknya sudah melaporkan hal ini kepada Bupati Cirebon, dan Alhamdulillah mudah-mudahan seluruhnya akan di cover oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon.
“Mudah-mudahan seluruhnya ya. Tapi Pak Bupati sudah mengiyakan,” tandasnya. (Muslimin)








Tinggalkan Balasan