Belasan Warga Desa Bojong Kulon Diduga Terjangkit DBD
KAB. CIREBON, (FC).- Belasan warga Desa Bojong Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon diduga terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit tersebut pemerintah Desa Bojong Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, melakukan fogging mandiri di wilayah desa setempat, kemarin.
Kuwu Bojong Kulon, Sudarso mengatakan, fogging kali ini dilakukan di Blok Majasri dengan melibatkan Kadus, RT, RW, dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).
Ia mengatakan, penyemprotan insektisida tersebut untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit DBD yang tengah mewabah di Desa Bojong Kulon.
Akibat wabah tersebut, sebanyak tujuh warga di Blok Majasri harus menjalani perawatan di rumah sakit. Dimana, satu dari tujuh warga yang diduga terjangkit DBD tersebut meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Yang meninggal ini memang baru diduga terjangkit DBD. Cuma kalau dari kacamata masyarakat awam, gejala-gejalanya sama seperti DBD. Untuk warga yang sempat dirawat, kami sudah mengetahui hasil diagnosanya dari bidan, dan hasilnya ya DBD,” kata Sudarso.
Sebelumnya, kata Sudarso, Pemdes Bojong Kulon juga sudah melakukan fogging di Blok Marageni beberapa waktu lalu. Di Blok tersebut, DBD mewabah pascabencana banjir yang melanda Desa Bojong Kulon pada bulan Maret kemarin.
Saat itu, lanjut kuwu, setiap satu hingga dua hari sekali warga di Blok Marageni harus dilarikan ke rumah sakit akibat DBD.
“Di Blok Marageni itu lebih banyak yang terjangkit DBD, jumlahnya sampai 12 orang. Setiap hari atau dua hari sekali ada saja warga yang dibawa ke rumah sakit,” paparnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemdes Bojong Kulon kemudian berinisiatif untuk melakukan pencegahan dengan melakukan fogging. Ia menambahkan, upaya tersebut memang harus segera dilakukan agar korban DBD tidak terus bertambah.
“Ini fogging mandiri, Dinas Kesehatan (Dinkes) hanya mengarahkan agar menggunakan obat (insektisida,-red) fogging yang ramah lingkungan. Karena kalau fogging menunggu dari Dinkes ya lama, harus melalui penelitian dulu,” tegasnya. (Ghofar)








Tinggalkan Balasan