Belasan Pasutri Ajukan Gugatan Cerai di Hari Kasih Sayang
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
MAJALENGKA, (FC).- Belasan pasangan suami istri (Pasutri) di Kabupaten Majalengka,mengajukan perceraian di Hari Kasih Sayang atau valentine day yang diperingati setiap tanggal 14 Febuari ini. Alasan mereka mengajukan gugatan cerai rata-rata berlatang belakang karena faktor ekonomi.
14 Februari merupakan momentum Hari Kasih Sayang atau valentine day, makanya tak jarang pada tanggal tersebut di peringati sebagai Hari Kasih Sayang, sebagai cermin dari kecintaan baik keluarga maupun bersama handaitolan.
Humas Pengadilan Agama Majalengka, Yayat Sofyan mengatakan, ada sebanyak 16 pasutri yang mengajukan cerai pada Selasa (14/2) yang notabene hari kasih sayang. Alasannya bermacam macam, ada yang kurang harmonis, faktor ekonomi sehingga pasangan tersebut sering cekcok dan lada akhirnya nya mengajukan gugatan untuk bercerai.
” Pada hari ini ada 16 pasutri yang mengajukan gugatan cerai” ujar Yayat kepada wartawan, Selasa (14/2).
Menurutnya, kebanyakan dari mereka yang mengajukan gugatan cerai karena faktor ekonomi. Selain itu, sudah tidak ada kecocokan dalam membina hubungan rumah tangga.
“Kebanyakan yang mengajukan gugatan cerai alasannya faktor ekonomi ” ucapnya.
Sementara, catatan yang dilakukan Pengadilan Agama Majalengka pada tahun 2022 lalu, ada 4.169 perkara perceraian hingga bulan Oktober. Dari jumlah itu, sebagian besar telah resmi bercerai.
Yayat menyampaikan, perceraian terjadi didominasi oleh perempuan yang mengajukan cerai atau cerai gugat. Dibanding laki-laki yang mengajukan cerai atau cerai talak.
“Dari 4.169 perkara, cerai gugat dari tahun 2020 selalu meningkat, artinya dari pihak perempuan yang mengajukan cerai lebih banyak dibanding laki-laki,” jelas dia.
Di tempat yang sama, seorang wanita asal Kecamatan Cikijing, sengaja mengajukan gugatan cerai karena pasangan hidupnya sudah tidak lagi setia. Sang suami sudah tidak lagi bertanggungjawab sebagai mana layaknya seorang kepala keluarga. Hampir setiap minggu selalu bertengkar dan selalu silang pendapat.
“Yah dari pada berumahtangga setiap hari cekcok terus, mungkin berpisah adalah jalan terbaik, walaupun pisah itu terasa pait,” ucap seorang wanita asal Cikijing yang memohon namanya jangan di publish. (Munadi)








Tinggalkan Balasan