Bambang Dorong Warisan Cirebon jadi Kekuatan Pembangunan
KAB.CIREBON, (FC).- Warisan sejarah dan budaya Cirebon dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pijakan pembangunan di masa depan.
Hal tersebut disampaikan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Bambang Mujiarto, saat menghadiri kegiatan Ngaji Budaya di Desa Cilengkrang Girang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Sabtu (8/8).
Kegiatan yang menghadirkan legenda tarling Cirebon, Hj. Yun Kurniasih, tersebut menjadi ruang refleksi untuk menggali kembali nilai sejarah, budaya, dan peninggalan leluhur yang dinilai masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Sophi Zulfia, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Cirebon Rudiana, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Bambang mengatakan, sejarah masa lalu tidak hanya menjadi catatan perjalanan sebuah daerah, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan ke depan.
“Sejarah masa lalu harus menjadi pijakan untuk membangun masa kini dan masa depan,” ujar Bambang.
Menurutnya, Kabupaten Cirebon memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang besar. Berbagai peninggalan leluhur menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon sejak dahulu telah memiliki pemikiran maju dalam bidang perdagangan, tata kelola wilayah, hingga pembangunan.
Ia mencontohkan keberadaan Muara Jati yang pada masa lalu menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan.
Menurutnya, keberadaan pelabuhan tersebut menjadi bukti bahwa leluhur Cirebon telah memiliki konsep ekonomi dan pembangunan yang berkembang pada zamannya.
“Muara Jati menjadi bukti bahwa leluhur Cirebon sudah memiliki konsep pembangunan dan perdagangan yang maju,” katanya.
Bambang menilai, warisan sejarah tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan pengetahuan tentang teknologi, tata ruang, serta pengelolaan wilayah yang dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan modern.
Ia menjelaskan, sejak dahulu wilayah Cirebon telah memiliki karakteristik dan potensi masing-masing sesuai kondisi geografisnya.
Kawasan Cirebon Timur, misalnya, dikenal dengan potensi pertanian dan komoditas bawang, sementara wilayah tengah berkembang dengan sektor persawahan. Adapun kawasan selatan memiliki potensi hortikultura.
“Pemetaan kebutuhan masyarakat dan potensi wilayah sebenarnya sudah dipikirkan sejak dahulu dan terintegrasi dengan sistem irigasi serta tata kelola sungai,” jelasnya.
Menurut Bambang, pemikiran leluhur tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyusun kebijakan pembangunan yang sesuai dengan potensi daerah.
Ia berharap kegiatan Ngaji Budaya tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan potensi daerah.
“Budaya dan sejarah harus kita jaga, tetapi juga harus mampu memberi manfaat bagi masyarakat dan menjadi kekuatan untuk pembangunan ke depan,” pungkasnya. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan