Alsintan Makin Modern, Petani Kanci Minta SPBU Khusus Pertanian
KAB.CIREBON, (FC).- Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di sektor pertanian terus meningkat seiring penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern.
Kondisi tersebut membuat petani Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, berharap pemerintah menghadirkan SPBU khusus pertanian guna menjamin ketersediaan bahan bakar untuk menunjang aktivitas budidaya.
Usulan tersebut disampaikan petani saat kegiatan Panen Raya Musim Tanam (MT) II di Blok Sibakung, Desa Kanci, Senin (3/8).
Menurut petani, kemudahan akses solar menjadi kebutuhan penting agar proses produksi pertanian berjalan lancar dan biaya operasional dapat ditekan.
Salah seorang petani Desa Kanci, Suratman, mengatakan keberadaan SPBU khusus pertanian akan sangat membantu petani, terutama saat kebutuhan solar meningkat pada masa tanam dan panen.
“Kami berharap ada SPBU khusus petani agar kebutuhan solar lebih mudah dipenuhi dan aktivitas pertanian tidak terganggu,” ujarnya.
Menurut Suratman, saat ini hampir seluruh tahapan pertanian telah menggunakan mesin berbahan bakar solar.
Mulai dari traktor untuk pengolahan lahan, pompa air, pompa sumur bor, hingga mesin panen modern atau combine harvester.
“Sekarang pertanian sudah banyak menggunakan alat modern. Kebutuhan solar makin besar karena hampir semua mesin memakai solar,” katanya.
Ia mengungkapkan, untuk mengelola lahan sekitar 10 hektare, petani harus menyiapkan biaya sekitar Rp25 juta hanya untuk kebutuhan solar dalam satu musim tanam. Biaya tersebut belum termasuk kebutuhan bahan bakar bensin untuk mesin-mesin kecil lainnya.
“Biaya solar untuk lahan sekitar 10 hektare bisa mencapai Rp25 juta dalam satu musim tanam. Itu belum termasuk bensin untuk mesin lainnya,” jelasnya.
Selain persoalan biaya, petani juga masih menghadapi kendala dalam memperoleh solar ketika kebutuhan meningkat. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat proses pertanian apabila tidak segera mendapatkan solusi.
“Yang sering kami hadapi bukan hanya soal biaya, tetapi juga sulit mendapatkan solar saat dibutuhkan,” ungkap Suratman.
Di sisi lain, Suratman menyebut keberhasilan panen padi Desa Kanci dengan produktivitas mencapai 8 hingga 10 ton per hektare tidak terlepas dari pengelolaan air dan pemupukan yang tepat.
“Kunci hasil panen yang baik itu ada pada kecukupan air dan pemupukan yang tepat,” tuturnya.
Namun, persoalan ketersediaan air masih menjadi tantangan bagi petani. Selama ini, kebutuhan pengairan sawah masih mengandalkan pompa dari aliran sungai karena jaringan irigasi belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan, terutama saat menghadapi musim tanam ketiga (MT III).
“Kalau air tersedia, kami bisa menanam sampai tiga kali dalam setahun. Kendala terbesar tetap soal air,” katanya.
Petani Desa Kanci sebelumnya telah mengusulkan pembangunan sumur bor untuk memperkuat sumber air pertanian. Namun, hingga kini usulan tersebut belum terealisasi.
Selain kebutuhan air dan solar, petani juga berharap adanya bantuan alat mesin pertanian, khususnya mesin tanam padi. Pasalnya, ketersediaan tenaga kerja pertanian semakin berkurang sehingga mekanisasi menjadi kebutuhan utama.
“Harapan kami sederhana, kebutuhan air dipenuhi, ada SPBU untuk petani, dan bantuan mesin tanam karena tenaga kerja sekarang sudah semakin langka,” pungkas Suratman.
Dengan meningkatnya penggunaan teknologi pertanian, petani berharap dukungan infrastruktur dan sarana produksi dapat terus diperkuat agar produktivitas pertanian di Kabupaten Cirebon semakin meningkat. (Nawawi)








Tinggalkan Balasan