KUNINGAN, (FC).- Orang Kuningan dengan inisial AL alias AP yang digadang – gadang mengijinkan liga pelajar di Kuningan telah dipanggil oleh pihak kepolisian, namun dalam pemeriksaan tidak mengakui apa yang disampaikan Ketua Pelaksana Liga Pelajar kepada pihak kepolisian.

Kapolres Kuningan, AKBP. Lukman Syafri Dandel Malik melalui Kasat Reskrim Polres Kuningan AKP. Danu Raditiya Atmaja menyampaikan bahwa AL sudah dilakukan pemanggilan dan pihaknya masih akan memanggil saksi – saksi lainnya.

“Untuk sementara hasil pemeriksaan, AL belum mengakui apa yang dituduhkan Ketua Pelaksana Pak Subagja,” kata Danu, Selasa (15/12).

Namun tidak akan berhenti disitu saja, Danu mengaku akan memanggil kembali Ketua Pelaksana, kemudian undang juga kepala desa dan saksi – saksi lainnya.

“Proses ini masih panjang, masih banyak yang akan diperiksa,” ujar Danu.

Seperti diberikan sebelumnya, buntut panjang dari pembubaran Agenda Liga Pelajar Nasional Balai Liga Pelajar Indonesia (Blispi) Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, pihak kepolisian akan memeriksa salah satu orang kuningan dengan insial AL alias AP.

Kapolres Kuningan AKBP. Lukman Syafri Dandel Malik melalui Kasat Reskrim Polres Kuningan, AKP. Danu Raditiya Atmaja menyampaikan pemeriksaan atas pembubaran turnamen bola illegal di kuningan, bahwa dia telah memeriksa beberapa keterangan saksi.

Disebutkan Kasat, Ketua pelaksana bernama Subagja membenarkan bahwa pelaksanaan di Kabupaten Kuningan memang tidak ada ijin. Kemudian mereka beralasan ke Kuningan karena di Kabupaten Cirebonnya tidak mendapat ijin dari pihak desa dan Kecamatan daerah Waled, termasuk Gugus Tugas Covid -19 Cirebon.

“Akhirnya dia (Subagja) menelepon rekannya yang di kuningan, dan rekannya dengan insial AL alias AP itu mempersilahkan ke kuningan, meski tidak ditempuh perijinan di kuningan,” kata Danu, Minggu (13/12).

Maka dari itu, lanjut Danu, pihaknya akan memeriksa orang kuningan yang memberikan ijin yaitu insial AL atau AP tersebut. Direncanakan pemanggilannya dilakukan pekan depan.

“Paling cepat senin besok kita sudah mulai pemanggilan,” kata Danu.

Terpisah, pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (kemenpora) mengecam pihak-pihak yang mencatut nama institusi Kemenpora dalam sebuah ajang sepak bola di wilayah Jawa Barat yang dibubarkan oleh kepolisian.

Setelah melihat beberapa pemberitaaan, Kemenpora terkejut karena ada salah satu perkumpulan yang menyebut dirinya dengan Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (BLiSPI) Kemenpora.

Asisten Deputi Pengelolaan Olahragaan Pendidikan Kemenpora Ary Moelyadi sebagai penanggung jawab program Liga Berjenjang untuk Pelajar Piala Menpora mengaku geram. Dia merasa nama institusinya dilibatkan dalam kegiatan yang tak pernah diketahuinya.

“Kami minta, jangan catut nama Kemenpora. Kami merasa tidak pernah memberikan dukungan, memberikan rekomendasi. Jadi itu mereka hanya membawa-bawa nama Kemenpora,” ucap Ary Moelyadi.

Tak hanya itu, dia memperingatkan berbagai pihak agar tidak sekenanya membawa nama Kemenpora. Kalau masih ada yang tanpa izin mencatut dan menggunakan embel-embel nama Kemenpora dalam kegiatan mereka tetapi pihaknya tak pernah merasa memberikan dukungan.

“Selama masa pandemi ini, Liga berjenjang Kemenpora yang ditujukan untuk para pelajar sedang diistirahatkan karena untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 dan kami mengikuti protokol kesehatan serta arahan dari Satgas Covid-19 dan juga kepolisian, jadi tak ada pertandingan sama sekali,” tegas Ary.

Tak hanya itu, dia juga memastikan telah memberikan teguran kepada BLiSPI yang mencatut Kemenpora.

“Saya sudah tegur langsung ketuanya, Pak Bagja dan juga Sekjennya. Mereka juga meminta maaf,” kata Ary.

Diberitakan sebelumnya, Kapolres Kuningan AKBP. Lukman Syafri Dandel Malik membubarkan pertandingan sepakbola yang diselenggarakan Badan Liga Pelajar Indonesia (Blispi) Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, di lapang Windusengkahan Kuningan. Sabtu (12/12).

Kabarnya, pertandingan tersebut awalnya direncanakan di Kabupaten Cirebon. Namun panitia merubah lokasi babak penyisihan liga pelajar tersebut.

Sempat terjadi perdebatan antara panitia dan pihak kepolisian, dimana pihak panitia masih ngotot bahwa mereka tidak salah dan hanya menyebut pertandingan itu sebagai ajang silahturahmi.

Namun dengan tegas Kapolres Kuningan meminta seluruh panitia untuk diperiksa ke Polres Kuningan.

Saat diwawancara wartawan, Kapolres Kuningan AKBP. Lukman Syafri Dandel Malik menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tanpa ada ijin sama sekali dengan Tim Satgas Covid Kabupaten Kuningan.

“Ada laporan warga ke Tim Satgas Covid tentang kegiatan itu, maka kami langsung ke lokasi dan kebetulan saat itu sedang melaksanakan operasi yustisi. Hasil kordinasi pihak kepolisian dengan Tim Satgas Covid ternyata panitia ini tidak mengantongi ijin sama sekali,” kata Lukman, Sabtu (12/12).

Dijelaskan Lukman, awalnya, pertandingan Liga Pelajar Indonesia ini akan diadakan di Kabupaten Cirebon karena tidak mendapat ijin dari Tim Satgas Covid Kabupaten Cirebon maka dialihkan ke Kuningan secara diam-diam, tanpa kordinasi, tanpa pemberitahuan dan tanpa adanya ijin dari Tim Satgas Covid Kabupaten Kuningan. Pesertanya pun kebanyakan dari luar Kuningan bahkan luar Jawa Barat, ada yang dari Makasar, Surakarta dan dari daerah lainnya.

“Situasi saat ini kan sedang masa pandemi Covid, bahkan di Kuningan hampir mencapai 500 an warga yang terpapar. Kegiatan ini malah mengundang kerumunan massa dan tanpa ijin sama sekali,” ujar Lukman. .

Jika dalam pemeriksaan nanti ada unsur pelanggaran pidana, tentu Lukman mengaku tidak akan segan melakukan tindakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

Sementara itu, salah satu pengurus SSB Telkom Makasar Rukiah mengaku kecewa dengan panitia. Dia memang curia kenapa lokasi pertandingan dipindahkan. Yang awalnya hanya 20 menit dari lokasi penginapan ini sampai 2 jam.

“Selain itu kita juga curiga kenapa peninapan bayar sendiri. Biasanya liga seperti inikan di biayai sepenuhnya oleh kementerian,” katanya.

Ditambahkan Mahdi selaku Offical SSB Telkom Makasar juga kecewa. Dia menghitung kerugian yang dialami pihaknya dan khususnya para pelajar.

“Bayangkan kalau tiap provinsi 2 tim, dan kita bebankan biaya ke pelajar masing – masing sekitar 3-4 juta,” katanya.

Terpisah, Ketua ASKAB Kuningan, H. Udin Kusnedi mengaku tidak mengetahui agenda tesebut. Namun untuk liga pelajar itu direncanakan finalnya di Kabupaten Kuningan.

“Saya juga bingung, banyak yang telepon dari sana sini menanyakan itu. Saya tidak tahu. Yang saya tahu finalnya di kuningan, dengan syarat panitia menempuh ijin dan tidak ada penonton,” kata Udin.

Dalam pembubaran agenda liga pelajar tersebut, bukan hanya kepolisian saja yang turun, namun seluruh tim Satgas Covid -19 yang terdiri dari Polri, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan semua turun tangan agar pembubaran berlangsung dengan kondusif. (Ali)