Akses Jalan Penghubung Antar Kabupaten Rusak Parah
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
INDRAMAYU, (FC).- Akses Jalan antar Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang usai terendam banjir rusak parah.
Kondisi ini mengakibatkan laju perekonomian didaerah tersebut nyaris lumpuh, hal ini pun di keluhkan warga dan para pengguna jalan yang melintasi jalur tersebut.
Terpantau, sepanjang Jalan Jend Ahmad Yani tepatnya di sekitar jalan pasar tradisional Kecamatan Haurgelis, dilokasi ini sepanjang sekitar satu kilometer ruas jalan kondisinya berlubang.
Dengan kedalaman 20 sampai 30 centimeter, bahkan sebagian kondisi jalan yang berlubang digenangi air.
Sehingga kondisi ini sempat viral dengan sindiran sebagai wisata baru seribu lubang.
Jalan tersebut adalah salah satu akses jalan yang sangat vital. Pasalnya jalan tersebut dilalui kendaraan besar yang mengangkut sejumlah material bangunan dan rute trayek angkutan penumpang dari berbagai tujuan.
Jalan ini juga merupakan jalan yang digunakan warga setempat untuk mobilitas perekonomian.
Akibat kondisi jalan rusak ini, banyak dikeluhkan pengendara motor maupun mobil, bahkan para tukang becak ikut terdampak.
Kendaraan yang mengalami kecelakaan akibat jalan rusak ini sudah banyak. Terakhir, truk pengangkut material mengalami patah as roda karena kondisi lubang yang dalam.
Salah satu tukang becak, Ali Rahman (40 ) mengatakan, kondisi jalan berlubang akibat banjir yang terjadi dalam sepekan ini tidak hanya membahayakan para pengguna jalan, melainkan berpengaruh pada pendapatannya menurun tajam.
“Kalau dibandingkan sebelumnya pendapatan saya lumayan. Setelah jalan rusak saya tidak berani lewat, karena bila dipaksakan pelek becak saya rusak. Belum lagi resiko kecelakaan,” kata dia.
Selain Ali Rahman, Mualim warga setempat berharap pemerintah segera turun tangan melakukan upaya untuk membenahi infrastruktur tersebut.
Karena jalan sangat vital sebagai akses perekonomian di wilayah tersebut.
“Kami seperti terhambat mobiltasnya, lama kelamaan bisa terisolir karena tidak ada kendaraan yang mau lewat disini,” keluhnya. (Agus)








Tinggalkan Balasan