Akibat Persaingan Sekolah, Jumlah Siswa Tak Tersebar Merata
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC).- Jumlah siswa secara umum dari tahun ke tahun di Kabupaten Cirebon terus mengalami peningkatan. Sayangnya, jumlah siswa yang banyak ini justru tak dapat mengisi sekolah-sekolah yang ada.
Hal ini disebabkan persaingan di beberapa daerah yang cukup ketat. Akibatnya, beberapa sekolah khususnya tingkat SMP hampir terancam tutup.
Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, H Amin mengatakan, kuota penerimaan siswa dari tahun ke tahun mengalami penurunan angka secara nasional.
Hal ini disebabkan karena adanya perubahan aturan berkala di tingkat nasional.
“Secara nasional aturannya berubah, selama 7 tahun belakangan ini kuota siswa 48 perkelas, kemudian turun lagi 44, turun lagi 40, turun lagi 36, sekarang sudah 3 tahun ini 32. Makanya otomatis penerimaan pun menurun, tapi secara umum siswa di Kabupaten Cirebon meningkat,” terangnya.
Dikatakannya pada FC, ketentuan pengurangan ini dibuat Kemendikbud setelah melewati kajian-kajian untuk mencapai standar Nasional.
Namun, yang disayangkan masih banyak sekolah yang alami kekurangan siswa khususnya SMP. “SMP Negeri saja kurang, apalagi swasta,” ucapnya.
Akibatnya, dengan adanya kekurangan siswa ini, memunculkan persaingan kurang sehat diantara sekolah, baik dari pemberian seragam gratis, uang tunai, hingga peralatan masak.
“Sekolah yang mengalami itu kebanyakan negeri menengah ke bawah. Mereka kalah sama yang dekat swasta, pesantren, dan MTs,” jelasnya.
Bukan karena persaingan kotor saja, bahkan karena kurang mantapnya promosi dan sebagainya, menyebabkan perhatian siswa lebih tertuju kepada sekolah-sekolah di sekitarnya.
Selain itu, karena banyaknya sekolah swasta baru yang dibangun membuat orang-orang lebih memilih sekolah baru.
“Bisa jadi kemungkinan, karena banyak sekolah swasta yang berdiri. Karena adanya dana BOS orang berlomba-lomba mendirikan sekolah. Kita tidak bisa melarang karena basisnya boarding,” paparnya.
Masih kata Amin, stereotip sekolah favorit juga membuat sekolah di daerah menengah ke bawah tidak dipilih oleh orang tua dan siswa.
Padahal, akses menuju sekolah di setiap kecamatan sudah bagus. Namun, dikarenakan stereotip sekolah favorit dan bermunculannya sekolah baru menyebabkan beberapa sekolah negeri terancam bangkrut.
“Saat ini tentu Disdik support terus tiap sekolah untuk maju. Setidaknya, harapannya sekolah yang hampir tutup dapat bangkit kembali seperti SMPN Jamblang,” pungkasnya. (Sarrah)
*








Tinggalkan Balasan