Agus Muklis: Sang Ahli Menyarankan Itu
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KAB. CIREBON, (FC).- Patung Cirebon Berprestasi atau Monumen Pataraksa di Alun-alun Taman Pataraksa yang berada di depan Kantor Bupati Cirebon dicat dengan warna putih. Sebelumnya mendapat protes keras dari Tokoh Pegiat Budaya Cirebon, R Chaidir Susilaningrat.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon, Agus Muklis menjelaskan, patung pelari atau patung Cirebon Berprestasi yang berada di Alun-alun Taman Pataraksa dicat dengan warna putih, sebelumya ia telah berkirim surat kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).
“Kami bersurat ke Budpar dan mengarahkan untuk dicat warna putih. Atas dasar surat itu, kemudian kami mengarahkan kepada pelaksana untuk menggunakan warna itu,” kata Agus, Senin (9/10).
Hal itu dilakukannya, lanjut Agus semata-mata itu adalah bentuk kehati-hatian pihaknya jangan sampai menuai pro dan kontra lagi. “Jadi kita sudah berkonsultasi kepada ahlinya. Dari yang ahlinya mengarahkan untuk dicat warna putih saja,” ungkapnya.
Jika berbicara progres pembangunan Alun-alun Taman Pataraksa secara keseluruhan, pada minggu kemarin sudah 93 persen. Artinya tinggal 7 persen lagi pembangunan selesai.
“Kerumitan itu pada pemasangan gapura modern. Dan memakan waktu. Kita selalu lakukan rapat evaluasi setiap minggu. Pelaksana masih menyanggupi selesai tanggal 11. Kita tunggu saja,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, patung Cirebon berprestasi atau Monumen Pataraksa di Alun-alun Taman Pataraksa yang berada di depan Kantor Bupati Cirebon kembali dicat dengan warna putih.
Tokoh Pegiat Budaya Cirebon, R Chaidir Susilaningrat mengatakan, selain merusak nilai estetika dan seni, pengecatan patung pelari tersebut dilakukan sepihak tanpa meminta masukan dari tokoh seni dan budaya Cirebon.
“Jelas merusak nilai estetika patung pelari tersebut. Di mana-mana patung itu berwarna aslinya. Apalagi itu terbuat dari perunggu,” kata Chaidir sapaan akrabnya, Minggu (8/10).
Dijelaskan dia, sebuah monumen merupakan bentuk atau simbol berkarakter, sehingga tidak bisa bebas diwarnai sesuka hati. Di berbagai kota baik di Jakarta maupun dimana pun warna logam aslinya dari segi esrietika itu melihatkan originalitas.
“Monumen Pataraksa sejak awal dibuat sudah memiliki konsep dan karakter serta nilai estetika yang kuat. Jadi jangan sesuka hati untuk merubah sebuah bentuk. Pembuat patung itu mungkin masih ada, dan setahu saya ketika pembuatan patung itu tahun 1986 itu pembuat patung dari ITB, jadi kalau mau di diubah warnanya baik di cat maupun diapakan mestinya dihubungi aja pembuat patungnya,” kata Chaidir.
Bisa dibayangkan, setelah dicat dengan warna putih akan seperti apa. Dirinya menyayangkan perubahan warga patung sang monumental tersebut.
“Dulu saat masih abu-abu semua, kelihatannya gagah. Sekarang tidak tampak gagah lagi, karena sudah hilang estetikanya. Sekadar pendapat saya dibiarkan dengan warna aslinya lebih baik tidak perlu macan-macam. Patung itu perungu kalau digosok itu bagus warnanya. Kan masih bisa dibersikan mengunakan kimia tertentu,” ujarnya. (Ghofar)








Tinggalkan Balasan