49 Peserta Open Bidding Dites Membuat Makalah
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
KUNINGAN, (FC).- Perjalanan lelang jabatan untuk jabatan eselon II yang di gelar oleh Panitia Seleksi ternyata tidaklah mudah. Terutama pada tahapan pembuatan makalah yang digelar di Hotel Horison, Selasa (3/3) kemarin.
Informasi yang dihimpun, sebanyak 49 pejabat dari 50 daftar nama pejabat yang lolos seleksi administrasi memasuki tahapan berikutnya yaitu pembuatan makalah.
Pembuatan makalah tersebut tentunya ditetapkan oleh panitia tanpa menggunakan alat bantu apapun. Hanya lembaran kertas kosong bersama satu buah ballpoint sebagai media pembuatan makalah tersebut.
Perjalanan pembuatan makalah tersebut berlangsung tiap sesinya selama 90 menit. Apabila pejabat yang lolos dua jabatan dalam pilihannya, tentu dilanjutkan pada sesi kedua.
Sementara ada sebagian pejabat hanya lolos satu jabatan hanya mengikuti satu sesi saja, sesuai dengan daftar jabatan yang mereka inginkan.
Seperti disampaikan Dudi Budiana, salah seorang peserta Open Bidding mengaku pembuatan makalah dalam tahapan itu sangat baik. Baginya, agenda itu sebagai ajang mencurahkan ide, pikiran, konsep dan invoasi yang nantinya dapat diimplementasikan.
“Seandainya nanti menjadi kepala SKPD tentu kita sudah ada bekal. Dan agenda kemarin itu cukup menantang meskipun waktunya sangat terbatas dan tentunya menjadi pengalaman yang sangat berharga,” ujar Dudi, Rabu (4/3).
Sementara peserta lainnya, H. Budi Alimudin menyampaikan pembuatan makalah itu merupakan salah satu cara para kandidat menuangkan gagasan atau ide kreatif dalam memahami masalah dari SKPD yang akan dipimpin nanti.
“Dalam makalah tersebut setiap kandidat menuliskan bagaimana peranan seorang kepala SKPD dalam memahami permasalahan yang ada dan memberikan solusi yang direkomendasikan jika terpilih dalam jabatan yang diharapkannya,” jelas Budi.
Terpisah, Tirsman Supriatna menyebutkan bahwa tahapan Open Bidding yang sudah dilakukan oleh Pansel merupakan sesuatu yang serius, demi menjaring calon-calon yang nanti memimpin SKPD.
“Kita rasakan proses Open Bidding ini tidak main-main. Semua peralatan termasuk HP diamankan, diatas meja hanya ada kertas dan ballpoint dan pembuatan makalah yang harus diseleksaikan waktunya terbatas. Dan kami semua peserta pasti dengan sungguh-sungguh menghadapi tahap pembuatan makalah ini, untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal,” jelas Trisman.
Hal senada disampaikan U. Kusmana yang juga peserta open Bidding. Ia mengaku tahapan kali ini memang waktunya sangat terbatas. Namun setidaknya semua bisa menjadi pengalaman terindah dalam agenda open bidding tersebut.
Sementara, Wahyu Hidayah juga menyebutkan tahapan kali ini menjadi pengalaman baginya yang sangat berharga. Baginya seleksi penulisan makalah tersebut dipastikan berlangsung dengan fair play.
“Menurut saya seleksi makalah dengan tulis langsung tanpa alat bantu jelas sangat fair. Bahkan memacu adrenalin, karena waktu terbatas dikerjakan dengan tulis tangan. Tentu itu menambah tantangan tersendiri, karena sudah lama tidak menulis, biasanya konsep itu langsung di depan perangkat komputer ataupun laptop,” jelas Wahyu.
Dilain tempat, Yudi Nugraha yang merupakan peserta mengaku bahwa pembuatan makalah seperti menyusun laporan kedinasan. Sehingga baginya tahapan itu biasa untuk yang sudah terbiasa.
“Ya kita bikin laporan minimal 4 lembar, sehingga tangan pegal, karena dalam prakter biasanya ketik langsung di laptop,” ujar Yudi.
Sementara seorang peserta gender, yaitu dr. Susi Lusyanti mengapresiasi terhadap Panitia Seleksi yang telah menerapkan secara baik, aturan-aturan dalam tahapan open bidding. Dimana penulisan makalah harus ditulis tangan, tidak boleh menggunakan alat bantu apapun.
“Jadi pembuatan makalah kemarin itu murni pemikiran-pemikiran para peserta. Nanti bisa dilihat kualitas dan penguasaan peserta terhadap peminatan jabatan yang diinginkan apakah dia menguasai dengan baik persoalan-persoalan dasar di jabatan tersebut atau tidak. Tentunya sebagai peserta kami puas,” jelas Susi.
Sementara itu, Bupati Kuningan H. Acep Purnama menanggapi seleksi penulisan makalah, bahwa hal itu merupakan buah pikir dari seseorang hari ini kedepan. Yang wajib disampaikan adalah apabila yang bersangkutan diwariskan dan ditakdirkan untuk menduduki jabatan.
“Apa visi misinya, itu harus selaras visi misi kuningan, visi terkecilnya di dinas masing – masing,” ujar Acep.
Yang kedua, lanjut Acep, bagaimana seseorang harus mampu mengantisipasi beberapa hal yang akan terjadi setiap saat. Misalnya seorang kepala dinas harus bisa menggambarkan kejadian-kejadian yang mendadak, seperti kasus virus corona yang sedang ramai saat ini. (Ali)








Tinggalkan Balasan