KOTA CIREBON, (FC).- Pada Agustus 2022 lalu, Kementrian PUPR yang telah menyelesaikan proyek Kotaku di Kelurahan Panjunan, menyerahkannya kepada Pemkot Cirebon.

Namun baru setengah tahun lebih saja, beberapa fasilitas di Kotaku sudah rusak. Yang paaling kentara adalah nyaris robohnya gapura candi bentar, pada bagian sisi kiri gapura tersebut.

Sebelumnya, pada sisi kanan pada saat masih pengerjaan gapura tersebut juga sempat roboh.

Anggota DPRD Kota Cirebon Fitrah Malik kepada FC, Selasa (14/2) mengatakan, sejak masih proses pengerjaan, proyek Kotaku memang menyisakan banyak pertanyaan. Dan terkesan dipaksakan selesai. Terlebih proses pengerjaannya, selesai dalam beberapa kali masa penambahan waktu atau adendum.

Bahkan, kata Fitrah, selain gapura roboh saat ini, dan sama persis seperti kejadian dulu, di bagian pemasangan hamparan batu alam, warga juga pernah melayangkan protes. Karena waktu itu terkesan dipasang sembarangan. Sehingga batu alam yang dipasang banyak mengelupas.

“Menurut pandangan saya, diduga jika berkaca dari robohnya gapura sebelumnya, dan terkelupasnya lantai batu alam saat pekerjaan masih dilaksanakan, ini disebabkan dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis,” ungkap Fitrah.

Secara umum, kata Fitrah, ia dan warga di Pesisir Utara, bersyukur karena wilayahnya dijadikan lokus dari salah satu program prioritas pemerintah dalam rangka mengentaskan kekumuhan di Kota Cirebon.

Namun, saat ikut memantau proses pengerjaan dan melihat hasilnya, warha sangat menyayangkan. Karena terkesan dikerjakan asal-asalan.

“Secara umum pembangunan Kotaku sangat baik dan mengubah kondisi yang awalnya kumuh menjadi bersih, rapih dan tertata. Tetapi jika melihat kualitas bangunannya, saya melihat terkesan mengejar progres saja, padahal pekerjaan Kotaku Panjunan ini sudah mendapat teguran 3 kali sehingga pekerjaan pun molor hingga beberapa bulan,” ujar Fitrah.

Maka dari itu, untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat akan hasil pekerjaan yang dinilai kurang maksimal, Fitrah pun meminta semua stakeholder terkait segera turun. Untuk memastikan proyek fantastis dari Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Barat ini hasilnya benar-benar bisa dinikmati. Dan membuat masyarakat bangga.

“Semua stakeholder harus turun ke lapangan untuk menilai ulang pekerjaan program Kotaku. Dan selanjutnya untuk diperbaiki secara menyeluruh agar bangunan yang ada bisa bertahan lama dan kembali menjadi kotor atau kumuh lagi,” kata Fitrah.

Dihubungi terpisah, Ketua RW 10 Pesisir Utara, Suwarjono menyampaikan, gapura hasil pengerjaan proyek Kotaku di wilayahnya, roboh Selasa pagi sekitar pukul 09.30 WIB.

Ia pun langsung memberikan laporan kepada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) sebagai SKPD teknis yang menanganinya.

“Langsung saya lapor, dan tadi sudah ada petugas dari DPRKP turun meninjau lokasi mas,” ungkap Suwarjono.

Kondisi gapura yang roboh sendiri, kata Suwarjono, di bagian bawah. Sehingga urugan di dalamnya pun runtuh. Sementara bata merah gapura di bagian atas masih berdiri kokoh.

“Atasnya masih belum roboh. Tadi katanya mau dirobohkan karena membahayakan. Sepertinya, juga akibat banyak truk urugan yang lewat. Karena di kelurahan sebelah sedang ada pembangunan pengembang perumahan, dan armada-armada besarnya lewat sini,” pungkasnya. (Agus)