Sekolah Akan Kembali Dibuka Pada Awal Tahun 2021, Sudah Siap?
Warning: Attempt to read property "post_excerpt" on null in /home/slawipos/tintabiru.com/wp-content/themes/liputanwp/template-parts/single/single-desktop.php on line 79
Oleh: Ervina K
Mahasiswi IAI Cirebon
Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan bagi anak-anak maupun remaja, dimana pada masa sekolah dapat membentuk karakter serta jati diri seorang anak. Sehingga, dengan adanya pendidikan maka generasi anak Indonesia sudah cukup memiliki wawasan.Pada umumnya, lamanya pendidikan di Indonesia ini minimal 12 tahun belajar. Dari masa SD, SMP juga SMA. Namun semenjak datangnya wabah penyakit, dunia pendidikan kini mengalami masa pemberhentian belajar tatap muka dengan sangat terpaksa.
Hingga saat ini, sudah hampir satu tahun sekolah tatap muka masih diberhentikan untuk sementara waktu. Mau tidak mau seluruh siswa-siswi, guru, serta para orang tua harus memaklumi keadaan yang ada. Belajar di rumah dengan segala keterbatasan yang ada menjadikan para masyarakat menengah ke bawah kerap melayangkan protes.Jika kita perhatikan, banyak sekali hal-hal yang membuat para orang tua ini mengeluh.
Khususnya, orang tua yang anaknya masih sekolah di sekolah dasar, masalahnya saya rasa tidak bisa dibilang sepele. Masa sekolah dasar itu seharusnya memang sangat perlu didampingi oleh seorang guru, sekarang ini banyak sekali orang tua murid yang mendadak menjadi guru pengganti anaknya di sekolah. Tak urung, membuat sebagian orang tua ada yang menjalaninya dengan senang hati pun ada pula yang hampir menyerah.
Yang saya telisik disekitar lingkungan, ternyata tidak semua anak dapat menjadi murid yang baik untuk guru dadakannya itu. Mungkin, itulah penyebab orang tua rasanya ingin menyerah saja menghadapi masa belajar di rumah ini. Menurut saya, dengan adanya pandemi ini banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil.Salah satunya tentang Guru Dadakan ini, para orang tua akhirnya menjadi tahu rasanya menjadi guru itu seperti apa.
Mereka pun mengerti, menghadapi anak untuk belajar materi sekolah itu sangatlah penuh dengan kesabaran. Sering kali kalimat bernada tinggi tidak sengaja terlontar kala sang anak tidak patuh terhadap ibu atau ayahnya saat sedang belajar.Itulah, mengapa peran guru itu sangat penting di kehidupan sehari-hari. Tidak semua orang bisa menjadi guru, apalagi menjalani peran ini dimasa pandemi yang tentunya dua kali lebih sulit dari sebelumnya.
Sebenarnya, tidak hanya para orang tua yang menginginkan belajar tatap muka ini segera diberlakukan kembali.Para guru pun inginnya juga seperti itu, mereka memikirkan banyak sekali cara agar setidaknya dalam satu minggu itu ada kegiatan belajar secara tatap muka. Tidak melulu secara daring, dari beberapa bulan yang lalu sebenarnya di Kota maupun Kabupaten Cirebon sistem tatap muka sudah diberlakukan dalam seminggu sekali.
Bahkan, ada pula yang lebih dari satu kali. Tetapi, tidak semua sekolah melakukan aturan tersebut. Pantauan dari Pemerintah kerap membuat kepala sekolah tetap merasa khawatir, walaupun di wilayahnya sudah tercatat zona aman tetap saja ada rasa takut dalam menjalani belajar tatap muka ini.Tidak berseragam, benar sekali. Pembelajaran secara tatap muka untuk anak sekolah dasar tidak menggunakan seragam, guru melakukan aturan para siswa menggunakan pakaian bebas sopan untuk pergi ke sekolah. Baik di sekolah negeri maupun swasta, jadi beban orang tua sedikit berkurang semenjak pemberlakuan ini.
Tidak hanya menguras tenaga juga pikiran, tetapi perekonomian juga kerap menjadi satu alasan para orang tua mengeluh. Masih banyak sekali orang tua yang tidak terlalu paham dengan teknologi, walaupun sekarang jaman canggih tetapi orang tua dengan perekonomian menengah ke bawah masih ada yang tidak memiliki smartphone.Itulah yang membuat sulitnya belajar secara daring, ada pula dengan keluhan kuota terbatas.
Meski pemerintah memberi kuota belajar, tetap saja bantuan tersebut tidak merata di Indonesia. Selain itu, yang paling membuat orang tua pusing adalah menghadapi mata pelajaran yang mereka kurang paham. Walaupun guru memberikan penjelasan berupa video atau link Youtube, tetap saja jika tidak bisa maka orang tua akan merasa sangat pusing menghadapinya. Khususnya pelajaran matematika kelas 3, 4, 5 dan juga 6. Mungkin terlihat mudah karena matematika dasar, namun tetap saja hal-hal yang kita anggap mudah akan terasa sulit jika kita tidak menguasainya.
Untuk masyarakat menengah keatas dengan perekonomian lebih dari cukup, maka dengan mudahnya mereka akan merogoh kantong untuk mendatangkan guru privat anaknya. Mungkin, hal itu akan terlihat seperti homeschooling. Tidak perlu pusing memikirkan mata pelajaran anak, karena terkadang pemikiran orang itu memang berbeda-beda.
Ada yang pro juga kontra, tergantung dari masing-masing pribadi. Jika hatinya ikhlas maka dalam situasi sesulit apapun akan dijalankan dengan penuh kesabaran tentunya dalam menghadapi masa belajar anak, tanpa teriakan juga rasa kesal tidak akan membuat kepala menjadi pening.
Dunia anak-anak itu dunia bermain, orang tua hanya tahu anaknya belajar dengan guru di sekolah, tanpa memahami bagaimana cara menghadapi puluhan anak dengan karakter yang berbeda. Menghadapi satu anak saja sudah membuat pusing kepala, apalagi puluhan.Itulah sebabnya, pandemi kali ini benar-benar menyadarkan orang-orang akan sulitnya menjadi guru.***








Tinggalkan Balasan