INDRAMAYU, (FC).- Suhu udara panas yang melanda Kabupaten Indramayu dan sekitarnya selama Oktober ini terjadi akibat gerak semu matahari yang bergeser ke arah selatan. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap kondisi tersebut.

Berdasarkan informasi resmi dari BMKG tentang Suhu Maksimum Harian di Indonesia yang dikumpulkan dari 20 stasiun BMKG, suhu udara tertinggi tercatat pada 20 Oktober 2025 pukul 07.00 WIB hingga 21 Oktober 2025 pukul 07.00 WIB.

BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati di Kabupaten Majalengka mencatat suhu maksimum tertinggi di Indonesia, yakni 36,4°C.

Kepala Sekretariat BPBD Indramayu, Sutrisno, menjelaskan bahwa suhu panas ini terjadi karena gerak semu matahari yang bergeser ke arah selatan.

“Saya menyampaikan informasi ini berdasarkan data resmi dari BMKG. Suhu panas ini terjadi karena gerak semu matahari yang tampak bergeser ke selatan,” ujar Sutrisno.

Ia menambahkan, secara geografis, posisi matahari terus bergeser antara belahan bumi utara dan selatan setiap tahun. Pergeseran ini memengaruhi intensitas panas yang dirasakan di berbagai wilayah.

“Dalam pelajaran geografi, kita mengenal garis lintang yang menentukan iklim tropis dan subtropis, serta garis bujur untuk menentukan waktu. Saat ini, matahari berada di selatan garis ekuator,” jelasnya.

BMKG mencatat bahwa pada September 2025, posisi semu matahari masih berada di sekitar garis ekuator yang melintasi Kalimantan dan Sulawesi. Namun, menjelang akhir Oktober, posisi tersebut bergeser ke selatan, menyebabkan suhu udara meningkat di sejumlah wilayah, termasuk Indramayu.

Sutrisno juga menyebut minimnya pembentukan awan sebagai faktor lain yang memperparah kondisi panas.

“Cuaca cerah tanpa awan membuat sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa penghalang,” katanya.

BPBD Indramayu mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih, menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari, dan waspada terhadap potensi kebakaran lahan akibat cuaca ekstrem.

Sementara itu, Muhammad Syifaul Fuad, Ketua Tim Kerja Prakiraan, Data, dan Informasi BMKG Kertajati, menambahkan bahwa posisi matahari yang kini berada di selatan garis ekuator membuat suhu di wilayah Jawa meningkat.

“Karena posisi matahari berada di atas wilayah Jawa, suhu terasa lebih panas,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa minimnya tutupan awan di atas wilayah Jawa menyebabkan sinar matahari langsung menyinari permukaan, sehingga suhu siang hari terasa lebih terik dari biasanya.

BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati mencatat suhu tertinggi di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) mencapai 37,6°C. BMKG memperkirakan suhu panas ini akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025. (Agus Sugianto)