Rabu, Februari 20th, 2019

Napak Tilas Ke Obyek Wisata Alam Mangrove Cikiong, Tommy Soeharto Gelar Dialog Dengan Para Petani Tambak

Oleh: Darsen Tajudin

KARAWANG, TINTABIRU.COM – Hutomo Mandala Putra atau yang akrab disapa Tommy Soeharto, Minggu (20/1/19) pagi menggelar nampak tilas obyek wisata alam mangrove Cikiong di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya yang kemudian digratiskan bagi para pengunjung yang datang.

Tommy Soeharto bersama dengan para kader Partai Berkarya se-Jawa Barat saat melakukan napak tilas ke wisata alam hutan mangrove, Desa sedari, Kecamatan Cibuaya, Minggu (20/1/19) pagi

“Hari ini kami menggratiskan siapapun yang mau berkunjung ke obyek wisata alam mangrove Cikiong, sebab hari ini Tommy Soeharto akan menggelar napak tilas di prasasti yang ditanda tangani ayahandanya, yakni Presiden Republik Indonesia ke-2, H.M. Soeharto, ” ujar H. Suyana, Kepala Resor Pemangkuan Hutan (KRPH) Cibuaya.

Kedatangan Tommy Soeharto sebagai Ketua Umum Partai Berkarya didampingi para kader dan para calon anggota legislatif  se-Jawa Barat mendapat pengawalan khusus dari jajaran Polres Karawang.  Tommy datang ke Karawang menggunakan helikopter yang rencananya akan landing di dilapangan bola dimana helipadnya  (landasan helikopter) tidak jauh dengan obyek wisata alam mangrove Cikiong.

Helikopter yang membawa Tommy Soeharto mendarat di Dusun Langseb, Desa Kertaraharja, Kecamatan Pedes, sekira pukul 09.30 wib

Namun karena faktor  cuaca, helikopter yang membawa Tommy Soeharto terpaksa mendarat di Dusun Langseb, Desa Kertaraharja, Kecamatan Pedes sekira pukul 09.30 wib.

Tommy Soeharto  bersama rombongan kemudian menuju obyek wisata alam mangrove Cikiong menggunakan kendaraan roda empat. Rombongan ini melewati jalur depan Mapolsek Cibuaya melalui Desa Srikamulyan Kecamatan Tirtajaya dan tiba di lokasi sekira pukul 10.20 wib.

Kedatangan Tommy Soeharto disambut warga Desa Sedari terutama para sepuh yang pernah menyaksikan penandatanganan “Prasasti Hari Pangan Sedunia” dan penanaman pohon secara massal untuk pelestarian hutan dan swasembada pangan pada 18 Oktober 1991 silam yang ditanda tangani oleh Presiden Republik Indonesia ke-2, H.M. Soeharto.

Meski hujan deras mengguyur Desa Sedari, namun Tommy Soeharto tetap menggelar dialog dengan para petani tambak. Dalam kesempatan tersebut Tommy soeharto menyampaikan keprihatinannya yang dilakukan pemerintah karena tidak adanya tolok ukur pembangunan pasca reformasi.

“Tolok ukur yang kami maksud adalah berbuat untuk bangsa ini secara kongkret, seperti  rencana pembanguan jangka pendek 5 tahun  dan jangka panjang 25 tahun  yang disebut Repelita dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang pernah ada dimasa pemerintahan Orde Baru. Bagaimana kita mau membangun negara yang begitu besar jika tanpa perencanaan yang matang, tanpa target yang jelas, sementara kita hanya mengandalkan APBN dan APBD tahunan dan itu sangat tidak memungkinkan untuk bisa berkembang dan maju. Insya Allah bersama Partai Berkarya Repelita dan GBHN bisa dihidupkan kembali, ”tegas Tommy Soeharto.

Usai menggelar dialog dengan para petani tambak, Tommy Soeharto bersama rombongan kemudian memasuki kawasan obyek wisata alam hutan mangrove BKPH Cikiong untuk mengetahui keadaan di dalamnya. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin