Kamis, Juni 27th, 2019

Dua Pekan Sejak Awal Januari 2019, Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Sungaibuntu Menurun

Oleh: Sigit Ernowo

KARAWANG, TINTABIRU.COM – Sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) nelayan dari muara laut wilayah Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, mengaku merugi pada beberapa hari terakhir.

Sejumlah nelayan Sungaibuntu mengeluh karena hasil tangkapan ikan mereka menurun sejak awal Januari 2019

Alasannya, hasil tangkapan selama berlayar di tengah perairan laut lepas tidak sebanding dengan biaya operasional selama melaut.

Saat ditemui tintabiru.com, salah seorang nelayan bernama Cucu (40) mengaku harus kecewa saat kembali pulang dari kegiatan melaut karena tidak membawa hasil tangkapan yang  memuaskan sejak awal 2019.

Bahkan, nelayan kelahiran Sukabumi yang selama ini hidup bersama keluarga di muara Sungaibuntu menjadi Anak Buah Kapal (ABK) milik nelayan desa setempat terkadang pulang melaut dengan tangan hampa.

“Sejak dua pekan terakhir, hasil tangkapan dari tengah laut jumlahnya tidak sebanding dengan biaya operasional kapal selama berlayar. Kami selalu merugi, “ujar Cucu didampingi istri dan ketiga anaknya saat berbincang dengan tintabiru.com, Minggu (13/1/19).

Dikatakan dia, biaya awal operasional untuk kegiatan berlayar ke tengah lautan sedikitnya antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta untuk memenuhi kebutuhan para nelayan bersama ABK diatas kapal dalam mencari ikan, udang dan lainnya.

Sejak dua pekan lalu, tambah dia, ia bersama ABK lainnya berikut para nelayan asal Sungaibuntu harus menghirup napas dalam-dalam saat pulang dengan hasil yang sedikit.

“Kita juga tidak tahu kenapa hasil tangkapan di tengah lautan sangat sedikit. Padahal, beberapa hari ini cuaca dan juga udara di tengah lautan baik-baik saja. Jika situasinya selalu seperti ini, lebih baik kami tetap bersandar di muara saja ketimbang harus tekor atau merugi, “ungkapnya.

Akibat penghasilan suaminya tidak menentu karena situasi dan kondisi di tengah lautan yang sulit mencari ikan sejak beberapa pekan lalu, Siti selaku isteri dari Cucu, mengaku terpaksa harus hidup dengan mengandalkan uang pinjaman.

Bahkan, Siti terpaksa menggunakan sebagian dari uang pinjamannya itu bukan hanya digunakan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari bersama suami dan ke tiga anaknya itu, melainkan uang pinjaman tersebut juga digunakan untuk modal suaminya kembali melaut untuk mencari ikan tangkapan.

“Kalau sampai 2 hingga 3 Minggu kedepan kondisinya masih seperti ini kami juga bingung harus bagaimana lagi? Belum lagi buat bayar utang, untuk makan keluarga saja kami harus pinjam kesana kemari. Namun kami tetap berdoa supaya secepatnya ada perubahan yang baik, “harap Siti. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin