Selasa, Agustus 20th, 2019

Tingkatkan Kemandirian Ekonomi Santri dan Pesantren, Pemerintah Launching Santripreneur dan Petani Muda

Oleh: Syamsul Arifin

BOGOR, TINTABIRU.COM – Dalam rangka meningkatkan ekonomi santri dan pesantren, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membuat program “perdagangan barang dan jasa” melalui Pesantren Mart dan One Pesantren One Product. Hal itu dilakukan agar setiap pesantren mampu memiliki kemandirian ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, saat mengunjungi Pondok Pesantren Pemberdayaan Umat, di Desa Cibuntu Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor

Sementara, untuk meningkatkan ekonomi para petani muda, Pemprov Jabar akan melakukan program dengan nama “One Village One Company” yang telah diluncurkan pada Minggu kemarin.

Hal itu dinyatakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa, saat hadir mewakili Gubernur Jabar dalam acara Launching Program Santripreneur dan Petani Muda bersama Menteri Koordinator Perekonomian, yang digelar di Pondok Pesantren Pemberdayaan Umat, Jalan H. Jaili RT.02 RW. 02 Desa Cibuntu Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Rabu (26/12/18).

Darmin Nasution bersama dengan para pengasuh Pondok Pesantren meninjau usaha perikanan milik Ponpes Pemberdayaan Umat di Ciampea Kabupaten Bogor

“Program-program ini dipersiapkan untuk menjadikan wilayah perdesaan di Jawa Barat menjadi desa yang produktif dan mandiri secara ekonomi dan mengedukasi para warga desa untuk menjadi kreatif dan inovatif, “ucap Iwa Karniwa.

Iwa Karniwa juga menegaskan kedepannya para santri bisa menjadi agen perubahan dalam rangka pembangunan ke arah yang lebih baik.

“Kami ingin para santri bisa menjadi pemeran Agent of Change (Agen Perubahan), menjadi pengubah dan katalisator dalam pembangunan bangsa ke arah yang lebih baik, menjadikan sumber daya manusia Indonesia bisa bersaing dan berkompetisi dengan bangsa lainnya, ” tambahnya.

Di ketahui, Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi dengan jumlah penduduk paling banyak di Indonesia. Pada 2017 silam, jumlah penduduk di Jawa Barat mencapai 48 juta jiwa dengan jumlah pesantren mencapai 8.428. Sementara jumlah Kyai/Guru/Ustadz sebanyak 58.699 orang dan jumlah santri sebanyak 783.248 orang.

Jumlah tersebut, ujar Iwa, menjadi tidak seimbang seiring dengan terus berkurangnya jumlah petani pada setiap tahunnya.

Berdasarkan hasil survei Sosial Ekonomi Nasional di tahun 2017, selama kurun waktu 2013-2017 rumah tangga petani mengalami penurunan sebanyak 3,31% per tahun. Hal itu disebabkan karena para petani mulai beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian dan anak petani tidak ada yang mau jadi petani.

Senada dengan Iwa Karniwa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan kolaborasi dengan pondok pesantren dan organisasi berbasis keagamaan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pengurangan kesenjangan ekonomi.

Menurut Darmin, lembaga berbasis keagamaan telah mengakar kuat di tengah masyarakat terutama di wilayah pedesaan. ditambahkan dia, sejumlah data menyebutkan, ada sekitar 28 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 4 juta orang.

“Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengembangkan Program Kemitraan Ekonomi Umat. Program ini merupakan implementasi dan tindaklanjut dari Kebijakan Pemerataan Ekonomi dan Kongres Ekonomi Umat yang telah digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu lalu, ”pungkas Darmin Nasution. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin

Subcribe Youtube kami