Selasa, Oktober 23rd, 2018

Korban Tewas Akibat Gempa dan Tsunami di Sulteng Capai 832 orang

JAKARTA, TINTABIRU.COM – Jumlah sementara korban tewas akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda sejumlah daerah lainnya di Provinsi Sulawesi Tengah baru mencapai 832 orang.

Gambar pusat gempa yang memporak porandakan wilayah Sulawesi Tengah

Dalam jumpa pers pada Minggu (30/9/18) siang, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyebut, jumlah korban terbanyak berada di Palu, yaitu 821 orang. Adapun korban tewas di Donggala mencapai 11 orang.

Akan tetapi, Sutopo mewanti-wanti, jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah.

“Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong listrik padam, komunikasi tidak intensif. Kita tidak tahu secara pasti bagaimana dampak gempa dan tsunami, bagaimana penanganan. Korban yang diduga tertimbun reruntuhan, masih banyak. Banyak daerah-daerah yang belum terjangkau,” kata Sutopo, seperti dilansir dari liputan6.com.

Disebutkan Sutopo, aksi pencarian dan penyelamatan korban oleh Badan SAR Nasional difokuskan di Hotel Roa-Roa.

“Hotel itu rata dengan tanah, Diperkirakan 50 sampai 60 orang tertimbun. Operasi SAR tidak mudah, Banyak kendala, listrik padam, komunikasi terbatas, alat berat terbatas. Kita kerahkan alat berat yang di Palu, namun jumlahnya tidak mencukupi dibanding kerusakan yang ada di Palu. Mengirim alat berat dari luar kota Palu, terkendala akses jalan,” papar Sutopo.

Di tempat terpisah, Kepala Basarnas, M Syaugi, mengakui minimnya alat berat membuat upaya pencarian dan penyelamatan sangat terkendala.

“Kita berpacu dengan waktu. Waktunya sangat terbatas. Kalau ada korban selamat, mereka pasti sangat lemah. Saya panggil nggak ada suara. Saya nggak ada pilihan kecuali alat berat didatangkan,” ujarnya.

Kebutuhan mendesak di Palu dan sekitarnya saat ini adalah bahan bakar minyak. “Fokus pasokan BBM, BBM masih sangat terbatas, genset tidak beroperasi, kendaraan tidak bisa berjalan,” kata Sutopo.

Pasokan BBM sangat terbatas karena Terminal BBM Donggala rusak sehingga tidak bisa menyalurkan ke Palu. Untuk mengatasinya, BBM didatangkan dari Poso, Toli-Toli, dan Pare-Pare.

Selain BBM, air bersih juga sangat diperlukan. “Jaringan air bersih hancur karena gempa, sumur-sumur menjadi keruh,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (29/9/18), Sutopo menyebut penanganan darurat masih dipusatkan pada pencarian dan penyelamatan.

Ia membantah tudingan bahwa evakuasi dan penanganan bantuan kemanusiaan berlangsung lambat.

Pada Minggu (30/9/18), Presiden Joko Widodo tiba di Kota Palu dan langsung memimpin rapat terbatas (ratas) dengan sejumlah jajarannya terkait bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah.

Setelah menggelar rapat terbatas, presiden kemudian meminta kepada prajurit TNI untuk membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Sulawesi Tengah.

“Juga bekerja keras bersama-sama dengan masyarakat, dengan seluruh komponen Polri, masyarakat dan seluruh lembaga dan kementerian agar kita semuanya bisa segera menyelesaikan persoalan yang ada di provinsi Sulawesi Tengah ini,” ujarnya.

Betapa pun, katanya, “kalau mengacu pada kekuatan gempa bumi, maka yang di Donggala kerusakannya bisa jauh lebih parah. Namun korban jiwa belum tentu, karena sebaran penduduknya berbeda,” katanya pula.

Sementara itu, kepada BBC News Indonesia, Nimas, relawan organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT), mengaku telah mencapai Kabupaten Donggala dari Provinsi Gorontalo melalui jalur darat. Perjalanan itu dimungkinkan setelah pada Minggu (30/9/18) pagi akses ke Kabupaten Donggala dari arah utara telah terbuka.

“Sepanjang perjalanan saya melihat rumah-rumah rata dengan tanah. Lalu mobil-mobil pelintas rusak tertimpa longsoran batu. Bahkan ada kapal yang terseret ke pinggir jalan,” ujar Nimas.

Di Kabupaten Donggala, Nimas mengatakan melihat para warga berada di luar rumah mereka yang hancur.

“Kami sempat mengevakuasi seorang jenazah perempuan lalu menyerahkannya ke sebuah posko,” kata Nimas.

Dia memaparkan bahwa masih mengupayakan pasokan BBM sehingga kendaraan yang ditumpanginya dapat terus bergerak.

Lumpuhnya komunikasi, khususnya jaringan telepon seluler, disebabkan oleh banyaknya menara pemancar (Base Transceiver Station/BTS) yang tidak berfungsi, sebagaimana dipaparkan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Berdasarkan data Kemenkominfo, terdapat 1.678 dari total 4.193 BTS yang tidak berfungsi karena terkendala pasokan listrik. Sementara itu, daya baterai cadangan sudah habis dan tidak bisa mendukung kebutuhan opersional BTS.

Ribuan BTS yang tak berfungsi itu tersebar di sembilan wilayah, antara lain di Kabupaten Banggai, Kabupaten Poso, Donggala, Tolitoli, dan Kabupaten Parigi Moutong. Yang terbanyak di Kota Palu sebanyak 1.167 BTS.

Sejauh ini, kerusakan di Palu pun tergolong parah: berbagai gedung hancur rata dengan tanah.

Itu karena kekuatan tsunami sangat dahsyat, kata Sutopo. “Di tengah laut kecepatannya hingga 400 km per jam, sehingga ketika menghantam daratan, gelombang air sangat tinggi dan kuat, dan daya rusaknya tinggi. Bisa menghancurkan infrastrukur,” kata Sutopo pula.

Kehancuran memang tampak di berbagai pelosok kota Palu: mayat bergelimpangan di mana-mana, bangunan-bangunan hancur, puing-puing bertebaran, situasi begitu sunyi dan mencekam.

“Pantai Talise (yang diterjang Tsunami kemarin) habis, semua habis di sana,” kata Eddy Djunaedi, salah seorang wartawan asal Palu.

“Warga mulai datang mengidentifikasi jenazah, diperkirakan ratusan tewas.”

Eddy Djunaedi sendiri selamat karena rumahnya berada di ketinggian. Setelah semalaman bersiaga, mewaspadai gempa susulan setelah tsunami menerjang, Eddy akhirnya bergerak menuju Anjungan Pantai Talise, Sabtu (29/9/18) kemarin, dan tiba di kawasan itu sekitar pukul 08:00.

Warga kota Palu itu baru benar-benar menyadari dampak tsunami itu ketika berdiri di dekat pantai Talise, karena sepanjang malam tersebut listrik padam, sementara jaringan telekomunikasi tidak bisa diandalkan.

Edy mencemaskan banyaknya korban jiwa berdasar pengamatannya di lapangan.

Gempa Lombok: Daratan berubah bentuk dan naik 25 sentimeter

Sejauh ini, korban tewas dan luka disebar di setidaknya empat rumah sakit.

“Korban yang luka perawatannya dilakukan di luar, dilapangan terbuka, untuk berjaga-jaga dari kemungkinan gempa susulan, terlebih dinding rumahsakit retak di sana-sini,” kata Jauhardin seorang dokter di RSUD Undata Mamboro, Palu.

Sementara Kepala BNPB, Willem Rampangilei, mengatakan, tim mereka baru akan tiba di Palu sekitar pukul 14:00.

“Lalu kami akan melakukan assessment terhadap kerusakan dan korban,” katanya kepada wartawan. dari situ baru akan diketahui jumlah korban dan kerusakan.

“Yang jelas, prioritasnya adalah penyelamatan dan pencarian korban. Karena kemungkinan banyak korban tertimpa bangunan akibat gempa, atau terdampak Tsunami,” katanya.

Kesaksian Mohamad Fajar, warga Sengau, Kecamatan Tetanga, Palu

“Gempanya lumayan dasyat. Rata-rata jalan ke Palu barat ini semua retak, bahkan ada yang turunnya sampai 80 cm, amblas ke bawah. Tadi posisinya saya sementara di atas motor, saya jatuh. Langsung jatuh. Posisi saya sementara mengendarai motor, tiba-tiba gempa, jatuh. Lumayan keras. Ya ada luka di siku sebelah kanan. Lecet saja.

Jembatan Empat, maskotnya Palu, itu patah tadi posisinya. Patah di tengah-tengahnya. Jadi akses dari selatan ke barat itu putus.

Terus di tempat saya juga ada rumah yang retak, ada tembok-tembok yang rubuh.

Orang-orang di sekitar saya, semua juga kan, posisi kan saya sementara di tengah kota. Jadi rata-rata di keliling gedung bertingkat, semua memang lari, lari keluar gedung, semua berhamburan ke tengah jalan.

Kalau gempanya sendiri tadi dia goyangnya sekitar hampir satu menit. Terus kalau efek setelah itu, sampai sekarang masih ada. Efeknya orang masih takut masuk ke dalam rumah. Semua orang ini posisi masih di luar rumah.

Rekaman video warga yang selamat berdera di media sosial, menunjukkan kehanjuran di kawasan Pantai Talise. Masjid terapung yang terkenal, mengalami kerusakan berat.

Pantai penuh dengan berbagai barang dan puing, dan di sana-sini ditemukan jasad. Sementara Jembatan Kuning yang ikonik, rubuh.

Di beberapa tempat warga membaringkan jenazah yang ditemukan, dan mulai mengidentifikasi. Jeritan dan tangisan terdengar dari warga yang kehilangan anggota keluarga.

Jaringan telekomunikasi sudah mulai membaik, namun masih sangat tidak stabil.

Sementara itu, bandar udara Mutiara SIS Al-Jufri masih ditutup, karena berbagai kerusakan yang dialami.

Presiden Joko Widodo mentakan, “memantau keadaan dari waktu ke waktu, memanjatkan doa bagi korban dan keluarga mereka,” dan memerintahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, untuk mengkoordinasikan penanganan darurat.

Ia mengatakan, akan berangkat juga ke lokasi Tsunami dalam waktu dekat.

Menko Polhukam Wiranto sudah berangkat menuju lokasi tsunami bersama sejumlah menteri dan pejabat lain.

TNI dan berbagai lembaga darurat seperti PMI sudah pula mengirimkan fasilitas-fasilitas penyelamatan dan bantuan darurat ke lokasi. Namun bandara Palu yang belum pulih, dan jalan-jalan yang rusak di Sulawesi tengah, menghambat pengerahan fasilitas-fasilitas itu. (hsn)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin