Minggu, Oktober 21st, 2018

Ada “Kongkalikong” di Proses Lelang Rumah Sakit Paru? Ini Kata Kabag Administrasi Pembangunan Setda Karawang

Oleh: Hasan Basri

KARAWANG, TINTABIRU.COM – Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Setda Karawang sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pembangunan Rumah Sakit Paru Kabupaten Karawang, Sri Bharoto Indriyatmo, menanggapi dengan santai tudingan miring yang dialamatkan kepada Unit Layanan Pengadaan (ULP) pasca diumumkannnya pemenang Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang memenangkan PT. Amarta Karya sebagai pemenang tender pada proyek pembangunan Rumah Sakit Paru (RSP) yang berlokasi di Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang.

Maket mini proyek Rumah Sakit Paru Kabupaten Karawang

Dugaan adanya kongkalikong pada proses lelang pembangunan Rumah Sakit Paru (RSP) Kabupaten Karawang dengan sumber anggaran  dari dana DBHCHT dengan pagu anggaran Rp185 milyar dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) senilai Rp 177. 655. 265.000,  00 itu dilontarkan pihak yang merasa tidak puas atas dimenangkannya PT. Amarta Karya.

“Saya kira tender LPSE Rumah Sakit Paru (RSP) Kabupaten Karawang telah sesuai dengan persyaratan dan tidak ada istilah kongkalikong seperti yang dituduhkan oleh PT. Hutama Karya, “kata Sri Bharoto kepada sejumlah wartawan, Jum’at (25/5/18) siang.

Empat penyedia jasa yang lolos evaluasi penawaran

Dikatakan dia, selain mengantongi Sertifikat Badan Usaha (SBU) dengan kode MK 001, PT. Amarta Karya juga telah memenuhi persyaratan dokumen sebagai calon pemenang lelang yang sesuai dengan hasil evaluasi akhir penawaran.

PT. Amarta Karya yang berdomisili di Jalan Veteran Nomor 112 Kota Bekasi Jawa Barat itu juga dinyatakan memiliki kemampuan dasar sebagaimana yang disyaratkan dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) sehingga PT. Amarta Karya dinyatakan lulus melalui harga penawaran terkoreksi senilai Rp 152. 615. 742. 000, 00.

Data lengkap dan domisili pemenang LPSE proyek pembangunan Rumah Sakit Paru Karawang

Dijelaskan, pada pertama kali lelang yang digelar pada pertengahan Desember 2017 lalu oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang, pihak Dinkes setempat menyatakan gagal lelang karena dari 31 peserta lelang tidak ada satupun peserta yang dinyatakan memenuhi persyaratan masuk evaluasi kualifikasi.

“Saat lelang pertama digelar hingga digagalkannya lelang tersebut, pihak-pihak yang merasa tidak puas  sudah mulai gaduh bahkan kegaduhan itu terjadi sampai ditetapkannya pemenang pada lelang kedua, “katanya.

Ditambahkan dia, salah satu alasan PT. Amarta Karya menjadi pemenang LPSE pada proyek pembangunan Rumah Sakit Paru Kabupaten Karawang itu karena perusahaan tersebut telah sesuai dengan syarat kualifikasi yang disyaratkan pada dokumen lelang.

“Jika ada yang mengatakan bahwa PT. Amarta Karya memiliki sepak terjang yang negatif atau wan prestasi tentunya perusahaan tersebut pasti sudah diblacklist oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP), “tutur Sri Bharoto.

Meski begitu, ujar Sri Bharoto, pihaknya tidak akan segan untuk memutus kontrak kerja PT. Amarta Karya jika nantinya perusahaan pemenang lelang tender tersebut bermasalah pada pengerjaan proyeknya.

Dipaparkan, dari 45 perusahaan yang ikut menjadi peserta pada lelang tahap kedua, hanya ada 6 peserta lelang saja yang menyampaikan dokumen kualifikasi.

“Keenam peserta lelang itu adalah PT. Nindya Karya, PT. Adi Karya Tbk, PT. Hutama Karya, PT. Brantas Abipraya, PT. Amarta Karya dan PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk, “paparnya.

Usai dilakukan evaluasi penawaran terhadap keenam perusahaan tersebut, ujar Sri Bharoto, hanya 4 perusahaan saja yang dinyatakan lolos dan memenuhi persyaratan administrasi.

“Setelah melakukan evaluasi kualifikasi dan pembuktian data kualifikasi terhadap keempat perusahaan penyedia jasa itu, akhirnya PT. Amarta Karya dinyatakan lolos sebagai pemenang sesuai hasil evaluasi penawaran, “pungkasnya. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin