Rabu, November 14th, 2018

Klaim Asuransi Nelayan Ditolak PT Asuransi Jasindo Ahli Waris Kirim Surat ke Menteri Susi

Oleh: Darsen Tajudin

KARAWANG, TINTABIRU.COM – Penolakan klaim asuransi nelayan oleh PT Asuransi Jasindo  yang dilayangkan sejak 20 April 2018 lalu oleh isteri Alm Kartono, Cahya,  kini disusul dengan melayangkan kembali surat keberatan penolakan.

Menteri Kelautan Republik Indonesia, Susi Pudji Astuti saat menyerahkan klaim asuransi kepada salah satu ahli waris nelayan

Meski surat keberatan yang dilayangkan dikirim pada bulan lalu, namun hingga kini surat keberatan penolakan tersebut belum mendapatkan jawaban dari pihak asuransi.

Surat keberatan penolakan itu dilayangkan keluarga almarhum kepada pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan tembusan melalui Dirjen Perikanan Tangkap, Bupati dan DPRD Kabupaten Karawang Jawa Barat.

Cahya, isteri Alm Kartono bersama dengan puteri bungsunya

“Lebih dari dua minggu saya telah melayangkan surat kepada PT Asuransi Jasindo terkait keberatan penolakan klaim asuransi, namun hingga kini pihak PT Asuransi Jasindo belum kembali mengirimkan jawabannya. Saya merasa harap-harap cemas, akankah surat itu mendapat tanggapan positif atau sebaliknya, “ungkap Wirjaya (45) Kakak Kandung Alm Kartono, Jum’at (11/05/18).

Almarhum Kartono adalah seorang nelayan warga Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang Jawa Barat yang memiliki kartu asuransi nelayan. Sepeninggal Kartono, Cahya selaku ahli waris almarhum sangat  berharap bisa mencairkan klaim asuransi tersebut yang akan digunakannya untuk biaya membesarkan anak-anaknya hasil pernikahannya dengan almarhum.

Cahya juga berharap pemerintah pusat maupun daerah bisa ikut membantu mengupayakan hak-hak nelayan milik almarhum suaminya yang hingga kini masih belum bisa dicairkan.

Surat pernyataan isteri almarhum Kartono, Cahya

“Surat yang saya  layangkan ke PT Asuransi Jasindo atas dasar keberatan, sebab keputusan PT Asuransi Jasindo adalah menolak klaim asuransi almarhum suami saya, Kartono. Padahal saya telah melaporkannya secara lengkap dengan berkas persyaratannya pasca 3 hari suami saya meninggal dunia kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Karawang. Yang membuat saya heran adalah mengapa klaim asuransi hanya dibatasi selama 5 hari sejak pemegang polish asuransi itu meninggal dunia, ”ujar Cahya, isteri almarhum Kartono.

Cahya menilai, keputusan PT Asuransi Jasindo sangat tidak  manusiawi. Menurutnya, dalam suasana berkabung ahli waris diharuskan mengurus semua ajuan klaim asuransi.

“Jangankan 5 hari, 7 hari pun belum tentu selesai. Apalagi saat mengurus klaim asuransi tersebut terbentur dengan hari libur nasional. Belum lagi harus menempuh jarak yang jauh antara wilayah pesisir dengan pusat kota, “katanya.

Sementara, Kepala Desa Sedari, Bisri Mustopa, mengaku akan terus berusaha memperjuangkan hak warganya. Kata Bisri, ahli waris almarhum nelayan bernama Kartono telah berusaha cukup maksimal  meski pada saat itu suasananya masih sedang berkabung.

“Dalam kondisi bagaimanapun, selaku Kepala Desa saya akan tetap melayani dan memperjuangkan apa yang menjadi hak warga saya. Masalah polish induk yang dijadikan alasan penolakan oleh PT Asuransi Jasindo, nelayan tidak mau tahu. Apalagi kesalahan masalah tersebut bukan berada di pihak nelayan. Masalah polish induk yang membatasi klaim asuransi nelayan yang tidak boleh lewat dari 5 hari kerja tidak pernah diketahui dan disosialisasikan kepada nelayan.  Lagi pula waktu 5 hari kerja itu adalah waktu yang sangat sempit. Selaku Kepala Desa saya berharap PT Asuransi Jasindo bisa bijak dalam mempertimbangkan keputusannya, sehingga hak asuransi nelayan atas nama almarhum Kartono bisa diterima oleh ahli warisnya, “harap Bisri Mustopa. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin