Kamis, November 15th, 2018

Masjid Agung Baing Yusuf Kerap Digunakan Sebagai Tempat Politik Praktis, Ulama Purwakarta: Stop Politisasi Masjid!!

Oleh: Hasan Basri

PURWAKARTA, TINTABIRU.COM – Ratusan jamaah Masjid Agung Purwakarta , Kamis (19/4/2018) malam menggelar peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1439 H.

Masjid Agung Purwakarta (Masjid Agung Baing Yusuf) sempat digunakan sebagai tempat politik praktis oleh salah satu kelompok yang mengatasnamakan islam

Melalui peringatan Isra Mi’raj yang mengangkat tema “Dengan Bekal Iman, Ilmu dan Amal Kita Jaga dan Pelihara Sholat Kita Serta Kesucian Masjid Seutuhnya” itu jamaah Masjid Agung Purwakarta berkomitmen untuk tidak menggunakan masjid sebagai tempat aktifitas politik.

Masjid Agung Purwakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Masjid Baing Yusuf” adalah mesjid Agung milik pemkab Purwakarta yang berasal dari hibah keluarga besar Syaikh Baing Yusuf, seorang  penghulu agama pertama di Kabupaten Purwakarta.

Ketua panitia peringatan Isra Mi’raj H. Sanusi, S. Ag mengingatkan peringatan Isra Mi’raj yang digelar pengurus Masjid Baing Yusuf Purwakarta pada tanggal 20 April 2018 adalah peringatan Isra Mi’raj yang bertepatan dengan tanggal lahirnya Nabi Muhammad SAW berdasarkan hitungan kalender masehi.

“Peringatan Isra Mi’raj yang digelar pada malam hari ini bertepatan dengan malam kelahiran Nabi kita Muhammad SAW, “kata H. Sanusi.

H. Sanusi juga membuka babad sejarah tentang beberapa masjid yang dibangun oleh Syaikh Baing Yusuf selain Masjid Agung kebangaan milik masyarakat Purwakarta tersebut.

“Pada tahun 1926, Syaikh Yusuf membangun beberapa masjid di Purwakarta, yakni membangun masjid di Kampung Sindangkasih dan di Kutawaringin, kalau sekarang adalah Pasar Rebo dan Alun-alun, “tambahnya.

Dijelaskan, dibangunnya masjid Baing Yusuf,  setelah Syaikh Yusuf mendapatkan petunjuk Allah SWT.

“Syaikh Yusuf kemudian berjalan ke utara hingga menemukan empang, kalau sekarang dikenal dengan sebutan Situ Buleud. Kemudian ia menuju arah barat dan membentuk pemerintahan Afedeling Karawang Cutak Sindangkasih, “urainya.

Melalui tangan trampil arsitek Purbasari , pembangunan Masjid Agung Purwakarta itu rampung hanya dalam waktu 1 tahun. Pada 2 Mei 1830 dilakukanlah pembacaan surat Yaasiin oleh warga setempat dalam rangka penyambutan Bupati pertama Purwakarta yang berpindah kantor ke komplek Masjid Agung Baing Yusuf tersebut.

H. Sanusi menjelaskan, sebagai Masjid pertama yang dibangun di Purwakarta, pengelolaannya Masjid itu adalah murni hanya sebagai tempat ibadah bukan sebagai tempat kampanye politik praktis atau tempat berkumpul sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam.

Sementara, dalam sambutannya, Kabag Kesra Pemkab Purwakarta, Asep Surya MSi,  yang mewakili Pejabat Bupati Purwakarta menyatakan, selain sebagai tempat pengajian dan tausyiyah yang biasa digunakan oleh Organisasi Perangkat Daerah(OPD) Pemda Purwakarta bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia setempat, masjid Agung Purwakarta juga digunakan sebagai Masjid tempat digalakannya Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah.

“Gerakan Shalat Shubuh Berjama’ah telah dua kali dilaksanakan di masjid ini yang selanjutnya dilaksanakan di setiap Masjid Kecamatan setempat, “terangnya.

Hal senada disampaikan muballigh yang menyampaikan taushiyyah pada peringatan Isra Mi’raj di Masjid Agung Baing Yusuf, Ust. Asep Pitiriyadi MPdi.

Ust. Asep Pitriyadi mengatakan, sebagai tempat yang digunakan untuk kegiatan shalat berjamaah dan ibadah lainnya, seyogyanya masjid tidak digunakan sebagai tempat kampanye politik praktis. Menurutnya,  masjid harus netral dari segala kepentingan partai politik.

“Gunakan masjid sebagai tempat shalat berjamaah dan kegiatan ibadah lainnya, dan sucikan masjid dari kegiatan dan kepentingan politik praktis, Rasulallah SAW bukan seorang pemimpin partai politik, namun beliau adalah pemimpin ummat untuk kebaikan hidup di dunia dan di akhirat kelak, “paparnya. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin