Minggu, Oktober 21st, 2018

Belum Lunasi Pembayaran Siswi SMAN I Rengasdengklok Terancam Tak Bisa Ikut UN

Oleh: Darsen Tajudin

KARAWANG, TINTABIRU.COM – Seorang siswi kelas XII SMAN 1 Rengasdengklok Kabupaten Karawang terancam tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) karena belum melunasi tunggakan DSP dan biaya Bimbel.

Suasana siswa/i di SMAN I Rengasdengklok Kabupaten Karawang jelang Ujian Nasional

Siswi bernama Riska Oktavia yang duduk di kelas XII IPS 4 itu mengaku dilarang pihak sekolah untuk mengikuti UN yang akan digelar pada Senin (8/4/18) besok. Sementara, orang tua Siska, Otong, mengaku sangat tepukul saat putrinya menangis tidak mau berangkat ke sekolah lantaran pihak sekolah melarangnya untuk mengikuti ujian akhir nasional yang menjadi penentu kelulusannya di sekolah tersebut.

“Hingga Jum’at (6/4/18)) kemarin, Riska  belum mendapatkan kartu peserta ujian nasional (UN) lantaran belum melunasi DSP dan biaya Bimbingan Belajar (Bimbel) sebesar Rp1.700 ribu lagi. Saya datang kesini untuk meminta keringanan dari pihak sekolah supaya puteri saya mendapatkan kartu peserta UN, ”kata Otong saat berbincang dengan tintabiru.com.

Salah seorang aktivis peduli pendidikan di Kabupaten Karawang, H. Arif, menilai jika pihak SMAN I Rengasdengklok masih menerapkan sistem tersebut kepada siswa/i yang belum mampu melunasi tunggakan dengan mengancam tidak akan mengikut sertakan pada UN dibanding mencerdaskan kehidupan bangsa, maka hal itu merupakan cermin dari bobroknya sistem pendidikan yang diterapkan di SMAN 1 Rengasdengklok.

Menurutnya, lingkungan sekolah harusnya terbebas dari segala kepentingan dan intimidasi. Kata dia, sekolah adalah tempat bagi para generasi muda bangsa dalam menuntut ilmu sekaligus membekali mereka agar memiliki karakter yang baik. Tetapi jika pihak sekolah menerapkan sistem shock therapy dengan tidak memperkenankan ikut ujian bagi para peserta didiknya yang belum bisa melunasi tunggakan, maka hal itu telah menyalahi aturan dan merupakan tindakan yang sangat keterlaluan.

Tunggakan yang belum dilunasi salah satu siswi di SMAN I Rengasdengklok

“Itulah perlunya revolusi mental,  bukan  hanya untuk generasi muda yang telah dijejali pemahaman radikalisme saja, akan tetapi para pendidik juga harus merubah kebiasaan lama mereka yang selalu menjadi diktator. Saya berani mengatakan hal ini karena saya sering melihat dengan mata kepala sendiri bahwa biaya pendidikan sudah terlalu tinggi ditambah lagi siswa/i SMAN 1 Rengasdengklok yang setiap hari harus dibebani uang parkir kendaraan oleh pihak sekolah. Artinya, pihak sekolah selalu berusaha untuk mencari penghasilan tambahan, ”tegas H. Arif.

Sementara, sistem shock therapy yang diterapkan pihak SMAN I Rengasdengklok bagi siswa/i yang belum mampu melunasi tunggakannya diakui Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Uju Juhariah S.Pd.

“Menahan kartu peserta UN itu merupakan bentuk shock therapy agar siswa/i  secepatnya bisa melunasi tunggakan mereka. Namun, jika orang tua mereka datang ke sekolah untuk memohon dan memastikan waktu pembayaran tunggakan tersebut maka pihak sekolah akan memberikan toleransi, “ujar Uju Juhariah.

Perihal biaya parkir yang diterapkan pihak sekolah kepada siswa/i  yang menggunakan kendaraan, Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana, Drs. Khoerudin mengaku, jika pengelolaan parkir kendaraan di SMAN I Rengasdengklok dikelola atas persetujuan Komite Sekolah dan uang hasil dari parkir kendaraan itu selanjutnya diserahkan ke pihak koperasi sekolah. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin

Check Also

60 Kali Bobol Rumah, Penjahat Asal Cibungur Karawang Wetan ini Meregang Nyawa Diterjang Timah Panas Polisi

Oleh: Riady Hidayat KARAWANG, TINTABIRU.COM – Seorang penjahat asal Kampung Cibungur Kelurahan Karawang Wetan Kecamatan …