Senin, Oktober 22nd, 2018

Prabowo Sebut Tingkat Gizi Buruk di Indonesia Masih Tinggi

Oleh: Endang Saputra

KARAWANG, TINTABIRU.COM – Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan asupan gizi (gizi buruk), terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, mulai dari janin hingga anak berusia 2 tahun.

Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra)

Berdasarkan data Riskesdas Kementerian Kesehatan, terdapat 37 persen balita Indonesia yang mengalami stunting. Jumlah tersebut setara dengan 9 juta orang.

Tingginya tingkat gizi buruk di Indonesia, disampaikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, sambil menyitir peringatan yang disampaikan oleh lembaga kesehatan dunia (world health organization/WHO).

Data Angka Gizi Buruk Versi Bank Dunia

“Kita di dunia termasuk yang tinggi. Ini warning yang diberikan WHO bahwa di Indonesia (tingkat-red) stunting tinggi,” katanya usai mengunjungi Posyandu Permata Bunda di Manahan, Kecamatan Banjarsari, Solo, Senin 12 maret 2018.

Tingginya tingkat gisi buruk di Indonesia juga disampaikan oleh Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang menyebut 35 persen anak Indonesia saat ini dalam kondisi kekurangan gizi.

“Ini data Bank Dunia, bukan kata saya,” ujarnya saat bersilaturahmi dengan para pengusaha kawasan industri se-Jawa Barat yang dilangsungkan di Hotel Resinda, Karawang, Selasa 27 Maret 2018.

Menurut Prabowo, jika anak kekurangan gizi, selain perkembangan otaknya lemah, pertumbuhan tulang-tulangnya juga akan lemah. Akibatnya, kualitas bangsa Indonesia akan tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Menyikapi tingginya tingkat gizi buruk, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengangkat masalah stunting menjadi prioritas nasional.

“Mempertimbangkan dampak stunting, mulai tahun ini (2018-red) pemerintah menjadikan upaya penanganan stunting sebagai salah satu prioritas nasional,” ujar Deputi Menteri Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Kennedy Simanjuntak, dalam acara ‘Stunting Summit’ di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu 28 Maret 2018.

Kennedy menyampaikan, pada 2019 pemerintah menargetkan penurunan angka stunting menjadi 28 persen.

“Secara absolut 9 juta anak yang tersebar di pedesaan dan perkotaan mengalami stunting. Ini angka sangat besar. Stunting bukan hanya terjadi pada masyarakat miskin, tapi juga pada kelompok yang tidak miskin,” paparnya.

Sementara itu, di Kabupaten Karawang pada tahun 2014 tercatat 411 kasus gizi buruk. Kemudian pada 2015 kasusnya turun menjadi 281, dan pada 2016 Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang mencatat terdapat 270 orang balita penderita gizi buruk dengan jumlah penderita tertinggi berasal dari Kecamatan Pedes. Sedangkan pada tahun 2017, dari data sementara tercatat 97 orang balita gizi buruk sangat kurus dari berbagai Kecamatan,

Dari hasil rekapitulasi Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, hanya ada lima kecamatan yang bebas dari gizi buruk yaitu Kecamatan Pangkalan, Ciampel, Telukjambe Barat, Tempuran, dan Pakisjaya. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin

Check Also

60 Kali Bobol Rumah, Penjahat Asal Cibungur Karawang Wetan ini Meregang Nyawa Diterjang Timah Panas Polisi

Oleh: Riady Hidayat KARAWANG, TINTABIRU.COM – Seorang penjahat asal Kampung Cibungur Kelurahan Karawang Wetan Kecamatan …

2 comments

  1. Endang Saputra

    Data Gizi Buruk.

    Data stunting di Indonesia terbagi menjadi beberapa kalsifikasi. Klasifikasi usia terbagi menjadi dua, yaitu bayi berusia di bawah dua tahun (baduta) dan di bawah lima tahun (balita). Klasifikasi asupan gizi terbagi menjadi dua, yaitu gizi buruk dan gizi sedang. Klasifikasi tinggi badan terbagi menjadi dua, yaitu pendek dan sangat pendek. Klasifikasi berat badan terbagi menjadi dua, yaitu kurus dan sangat kurus.

    PSG 2016 memuat informasi:
    – 3,4% balita gizi buruk dan 14,4% gizi kurang. Indonesia masuk dalam kategori sedang
    – 8,5% balita sangat pendek dan 19,0% balita pendek. Indonesia masuk dalam kategori kronis
    – 3,1% balita sangat kurus dan 8,0% balita kurus. Indonesia masuk dalam kategori akut

    Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mengungkapkan 21,7% bayi usia di bawah dua tahun (Baduta) mengalami stunting, sedangkan bayi usia di bawah lima tahun (Balita) yang mengalami stunting mencapai 27,5%.

    PSG 2017 menunjukan prevalensi stunting pada anak usia di bawah dua tahun (Baduta) mengalami penurunan dari 21,7% (2016) menjadi 20,1 persen (2017).

    Data Pemantauan Status Gizi (PSG) Kemenkes.
    2013 = 37,2 persen;
    2014 = 28,9 persen; – turun 8,3 persen.
    2015 = 29 persen;
    2016 = Balita 27,5 persen, Baduta 21,7 persen;
    2017 = Baduta 20,1 persen.

    Penurunan angka stunting yang drastis (tahun 2013-tahun 2014 dari 37,2 persen menjadi 28,9 persen) menimbulkan keraguan, angka yang dipublikasikan oleh Kemenkes kemungkinan berbeda metodelogi risetnya. Menurut Prof. Dr. Ir. Hardinsyah,MS, dari departemen gizi masyarakat IPB, belum ada negara yang dapat menurunkan stunting secara drastis. Rata-rata hanya 2 persen per tahun.

    Pada sisi lain, Deputi Menteri Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Kennedy Simanjuntak, pada acara ‘Stunting Summit’ di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu 28 Maret 2018 menyampaikan, pemerintah menargetkan penurunan angka stunting pada tahun 2019 menjadi 28 persen.

    Pertanyaannya, mengapa Bappenas pada 28 Maret 2018 menyampaikan bahwa pada tahun 2019 pemerintah menargetkan tingkat stunting menjadi 28 persen ? bukankah Kemenkes melalui data PSG menyampaikan bahwa pada tahun 2016 tingkat stunting Balita 27,5 persen dan Baduta 21,7 persen, dalam arti target stunting sebesar 28 persen telah tercapai pada tahun 2016 ?.