Rabu, Oktober 24th, 2018

Kepala Desa Sedari: Begini Cara Kami Hindari Praktek Pungli Saat Pembagian Rastra!!

Oleh: Darsen Tajudin

KARAWANG, TINTABIRU.COM –  Meski tak sepeserpun memungut biaya angkut dari warga,  enam  Kepala Dusun di Desa Sedari harus mengangkut Beras Sejahtera (Rastra) dengan menggunakan sepeda motor untuk dibawa ke dusunnya masing–masing. Sementara,  jarak tempuh antara kantor Desa hingga titik akhir Pendistribusian Bansos Rastra ke Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) mencapai 4 – 5 KM.

Dengan membawa kantong plastik, sebagian warga Desa Sedari mendatangi langsung Kantor Desa untuk mendapatkan jatah Rastra

Kepala Dusun Karangsari, Karyudi, mengatakan penyaluran beras gratis  ini adalah kali pertama. sebelumnya warga harus membayar raskin sesuai dengan harga subsidi dari pemerintah.  Karyudi mengaku, setelah Raskin  menjadi rastra, semua Kepala Dusun  sempat mengeluh, karena usai penyaluran ke RTS, tak sepeserpun uang lelah yang ia kantongi. Padahal kata dia, pengangkutan rastra dengan menggunakan sepeda motor itu tidak cukup sekali bawa, apalagi bagi dusun seperti  Tanjungsari dan Jayasari harus lebih ekstra hati-hati karena pengangkutannya harus melalui jalan tanggul empang.

“Kami  tidak berani membebani warga untuk biaya angkut atau ganti uang bensin, walaupun pekerjaannya cukup melelahkan. Sebab Kepala Desa selalu mewanti-wanti  agar penyaluran Beras Sejahtera ini  benar-benar dilakukan secara gratis.  Kepala Desa juga mengintruksikan kepada warga untuk membawa tempat masing-masing, ”kata Karyudi, Kepala Dusun Karangsari saat dijumpai tintabiru.com.

Kepala Desa Sedari, Bisri Mustopa, membenarkan jika dirinya melarang para Kepala Dusun (Kadus) untuk memungut biaya angkut dari warga. Bisri berharap semua  Kadus secara ikhlas bekerja dan memberikan pelayanan kepada warga di dusunnya masing-masing. Dijelaskan,  bansos rastra  yang  baru pertama kali diluncurkan oleh pemerintah ini benar-benar bisa dirasakan secara gratis oleh para KPM (Keluarga Penerima Manfaat).

“Saya sangat apresiasi dengan adanya Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)  berupa bansos rastra ini, Karena Pemerintah Desa hanya terbebani tenaga saja. Lain halnya dengan subsidi rastra, saat bantuan raskin dulu, kita harus mencari dana talangan untuk menebus beras bersubsidi yang  kemudian dijual kepada warga tersebut. Bahkan,  saat akan menebus raskin dulu, kadang-kadang uangnya juga belum ada.  Nah, kalau sudah seperti itu, warga pasti protes dengan keterlambatan datangnya beras subsidi tersebut,  ”katanya.

Mengenai mekanisme penyaluran rastra, kata Bisri, sebelumnya Kepala Desa telah bermusyawarah dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) tentang tata cara penyaluran rastra yang bisa terbebas dari praktek pungli. Melalui rapat musyawarah itulah, beber dia, ditemukan solusi dan keputusan bahwa warga diharuskan membawa wadah masing-masing. Menurutnya,  jika wadah berupa plastik itu disediakan oleh para Kepala Dusun,  maka akan sulit dihindari adanya pungutan dengan alasan untuk pembelian kantong plastik.

“Rapat yang digelar antara pihak Pemerintah Desa dengan BPD menghasilkan keputusan agar setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) diharuskan membawa wadah sendiri. Setiap KPM hanya menerima 10 Kg rastra yang dibagikan setiap bulan secara gratis. Mudah-mudahan program ini akan berjalan sesuai harapan dan dapat meringankan perekonomian masyakarakat, ”pungkasnya. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin

Check Also

Perang Turki VS Amerika di Depan Mata

ANKARA, TINTABIRU.COM, Perang yang terjadi di Syiria tampaknya akan segera bergeser ke bagian utara. Perang …