Hadirkan Saksi, PN Karawang Kembali Gelar Sidang 8 Korban Salah Tangkap Gugat Polres dan Kejari Karawang Rp8 Milyar

Oleh: Saut Sianipar, SH

KARAWANG – Pengadilan Negeri Karawang, Kamis (26/10/17) kemarin kembali menggelar sidang lanjutan gugatan perdata dari kasus 8 orang yang menjadi korban salah tangkap pihak Kepolisian Resort dan Kejaksaan Negeri Karawang.

Melalui kuasa hukumnya, 8 orang yang menjadi korban salah tangkap tersebut menggugat Polres Karawang sebagai tergugat 1 dan Kejari Karawang sebagai tergugat 2 dengan gugatan senilai Rp8 Milyar.

Bertempat di ruang sidang Kusumah Atmaja, sidang yang digelar dipimpin Hakim Ketua, Muhammad Firman Akbar SH, didampingi Hakim anggota Elvina SH, MH serta Nenny Ekawaty Barus SH, MH.

Sidang tersebut mengagendakan pemeriksaan para saksi dari pihak tergugat 1, dalam hal ini adalah pihak Kepolisian dengan menghadirkan saksi Hasto, salah satu anggota Kepolisian dari  dari Polsek Klari.

“Setahu saya, kasus ini berawal dari pemberitahuan adanya indikasi kasus pembegalan yang terjadi di wilayah Desa Kiarapayung, Kecamatan Ciampel. Dalam penanganannya, pimpinan kami kemudian memberikan atensi untuk dibuat tim khusus dengan jumlah personil sekitar 14 orang yang dibagi menjadi 4 regu. Saat kami sampai di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kami tidak menemukan adanya sepeda motor yang seharusnya menjadi Barang Bukti (BB) pada kasus tersebut, ”kata Hasto, dalam kesaksiannya di depan Majelis Hakim PN Karawang.

Sementara, saksi lainnya, Ipda Joko Suwito selaku Kanit Reskrim Polsek Klari mengatakan, pihaknya telah menemukan adanya beberapa Barang Bukti (BB) berupa senjata tajam, kendati mereka tidak menemukan adanya sidik jari dari para pelaku.

“Pada saat itu korban dibawa ke klinik Yakesti dan para penggugat langsung kami amankan ke Mapolsek Klari. Untuk BB sendiri kami hanya mendapati gunting, obeng dan kayu, akan tetapi untuk sidik jari tidak diambil dari keseluruhan BB tersebut. Perlu diketahui, pada saat rekontruksi di Polsek Klari, kami juga menghadirkan Dinas Sosial, Penasehat hukum para penggugat, pihak Kejaksaan dan semua orang tua dari seluruh penggugat, ”ujarnya.

Ipda Joko Suwito menambahkan, dalam kasus tersebut, para penggugat dikenakan pasal 365 jo 170 KUHP ditambah dengan pasal 339 oleh pihak Kejaksaan Negeri Karawang.

Untuk penggugat yang masih berusia dibawah umur diketahui hanya ditahan selama 15 hari. Sementara, para penggugat lainnya yang dianggap telah dewasa ditahan selama 40 hari untuk kemudian penanganan selanjutnya dilimpahkan kepada pihak Kejaksaan Negeri Karawang.

Ada hal menarik saat Majelis Hakim PN Karawang memberikan kesempatan kepada kuasa hukum para penggugat untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Karena saat itu pula, Ipda Joko Suwito dianggap telah mencampur adukkan profesi Aneng Winengsih selaku seorang Advokat dengan statusnya sebagai seorang isteri dari seorang anggota Polisi.

“Seharusnya ibu mengerti sebagai seorang Bhayangkari, ”keluh Joko Suwito kepada Aneng Winengsih saat di persidangan.

Kata-kata yang dilontarkan Joko Suwito di depan para Majelis Hakim ini dianggap sangat menarik, karena didalamnya seolah ada intervensi. Menurut Aneng Winengsih, selaku saksi, seharusnya Ipda Joko Suwito tidak perlu mencampuradukkan profesi dirinya sebagai seorang advokat dengan statusnya sebagai seorang isteri dari anggota Kepolisian.

“Pernyataan yang dilontarkan Ipda Joko Suwito di depan Majelis Hakim menegaskan ketidak profesionalan dirinya sebagai seorang anggota Kepolisian. Atau mungkin juga dia merasa tersudutkan. Masalah benar atau palsunya kesaksian dia di hadapan Majelis Hakim, hanya dia dan Tuhan saja yang mengetahuinya, ”pungkas Aneng Winengsih. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin

Check Also

Niiih Dia Tukang Jambret di Karawang!! Meski Masih ABG Namun Sudah 14 Kali Sukses Menjambret

Oleh: Hasan Basri KARAWANG – Dua pelaku penjambretan yang sering beraksi di kota Karawang berhasil …