Jaring Ikan Ditabrak Kapal Pertamina, Hampir 3 Minggu Nelayan Desa Sedari Menganggur

Oleh: Darsen Tajudin

KARAWANG – Selama hampir tiga minggu, masyarakat nelayan di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang tidak bisa melakukan aktivitasnya dalam menangkap ikan di laut.

Pasalnya, jaring yang biasa mereka gunakan untuk menangkap ikan rusak parah akibat ditabrak kapal yang mengerjakan perawatan pipa milik PT. Pertamina yang ada dibawah laut .

Peristiwa terjadinya kapal service pipa bawah laut menabrak jaring nelayan terjadi pada Senin dinihari (11/9/17) silam.

“Sudah hampir tiga mingu kami tidak bisa melaut karena tidak punya uang untuk membeli jaring baru. Kami berharap kepada pihak PT. TIMAS SUPLINDO sebagai rekanan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ), agar perusahaan tersebut mengganti semua kerugian, sebab akibat peristiwa tersebut kami selaku masyarakat nelayan disini tidak bisa memiliki penghasilan lagi, ”kata Acim (32) salah satu perwakilan nelayan yang berhasil ditemui tintabiru.com.

Diterangkan Acim, setelah kejadian tersebut, semua nelayan yang jaringnya ditabrak kapal, sempat diundang oleh Amal, Humas PHE ONWJ di Rumah Makan Lesehan Saung Beureum Rengasdengklok, pada Rabu (20/9/17) kemarin.

Menurutnya, dalam pertemuan yang digelar di RM Saung Beureum, pihak Pertamina dan pihak PT. TIMAS SUPLINDO menyalahkan para nelayan dengan dalih Kegiatan Perawatan Pipa Bawah Laut telah disosialisasikan sebelumnya agar selama kegiatan service pipa bawah laut tidak boleh menebar jaring dalam jarak 2 KM dari areal kegiatan.

Dalam pertemuan yang digelar sempat terjadi perdebatan, hingga akhirnya pihak PT. TIMAS SUPLINDO memutuskan hanya akan memberikan uang kerohiman saja.

“Kami berani menebar jaring karena sudah tidak ada kapal besar yang melakukan kegiatan service pipa bawah laut, bahkan di areal tersebut satupun tidak ada kapal jaga yang menghalau, makanya kami menganggap bahwa kegiatan tersebut telah selesai. Kami pun hanya menebar jaring pada malam hari sekitar pukul 22:00 WIB. Dan pada pagi harinya, jaring kami hanya tinggal beberapa meter saja, dan pada hari itu juga kami langsung melaporkan dan menyerahkan sisa jaring yang rusak ke kapal Tug Boat Al Munir untuk dimintai pertanggung jawabannya. Sebab hanya jaring itulah sebagai alat tangkap hasil laut untuk menapkahi keluarga kami, bukan hanya sekedar kerohiman, ”jelas Acim.

Kepala Desa Sedari, Bisri Mustopa juga membenarkan adanya peristiwa tersebut. Bisri mengaku sempat diundang ke RM Saung Beureum oleh Amal, Humas PHE ONWJ, namun ia menolak undangan tersebut, dengan alasan tempat musyawarah yang digelar jauh dari Desanya, padahal ia telah mengusulkan agar pertemuan digelar di Kantor Desa.

Dijelaskan dia, pada brosur sosialisasi proyek perawatan pipa milik PT. Pertamina hanya tertulis “PEKERJAAN PERAWATAN PIPA BAWAH LAUT JAWA” dikerjakan dari bulan Agustus hingga September saja, tidak diterangkan tanggal awal pekerjaan dan akhir pelaksanaan.

Menurutnya, jika para nelayan menebar jaring ditempat yang biasa mereka melakukan penangkapan ikan, para nelayan tidak bisa disalahkan, sebab mereka menebar jaringnya pada bulan September.

“Jika nelayan menebar jaring di bulan Agustus, mungkin mereka bisa disalahkan, namun mereka menebar jaring di bulan September. Sementara pada brosur sosialisasi hanya tertera jadwal pelaksanaan dari Agustus – September, disana tidak tertulis tanggal pelaksanaan awal dan akhir. Kami prihatin melihat kondisi nelayan, karena hanya dengan jaring yang mereka miliki mereka bisa menapkahi keluarga mereka. Sehingga jika hanya diganti dengan kerohiman, ini sangat tidak manusiawi. Karena yang namanya kerohiman itu hanya alakadarnya saja, sedangkan para nelayan yang kehilangan jaring, kondisi mereka semua sekarang menganggur,  ”tegasnya.

Sementara, saat tintabiru.com mengkonfirmasi perihal jaring nelayan yang ditabrak kapal PT. TIMAS SUPLINDO melalui ponsel pribadinya, Humas PHE ONWJ tidak memberikan jawaban apapun. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin