Waaaah !! Proyek Milyaran Rupiah di Desa Sedari Dikerjakan Tanpa Pengawasan

Oleh: Darsen Tajudin

KARAWANG, TINTABIRU.COM – 4 paket proyek yang dikerjakan kontraktor di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya dengan nilai kontrak milyaran rupiah berjalan tanpa pengawasan.

Keempat proyek tersebut masing-masing dikerjakan oleh CV. Sabda Alam yang mengerjakan 40 unit rutilahu dengan nilai kontrak Rp1.526.237.900, Proyek Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dikerjakan oleh CV. Sarana Cipta Graha dengan nilai kontrak Rp1.062.830.000, Proyek Ruang Terbuka Hijau 1, 2 dan Gerbang Kawasan dengan nilai kontrak Rp505.057.000 dikerjakan oleh CV.Citra Agung dan Proyek Jalan Konstruksi Beton yang dikerjakan CV. Karya Cipta Indah dengan nilai kontrak Rp724.608.000.

Sementara, PT. Bina Sarana Ekatama selaku konsultan keempat proyek tersebut diketahui jarang berada ditempat sehingga pengawasannya dinilai tidak maksimal. Padahal biaya pengawasan untuk keempat proyek itu sebesar Rp172.260.000.

“Kami sempat komplain dengan pengerjaan proyek Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lokasinya berada dipesisir pantai, sebab adukan semennya menggunakan air laut. Kami juga menduga pasir yang digunakan dicampur dengan pasir laut, sehingga secara pasti pengerjaan proyek ini banyak ditutup-tutupi. Salah satu buktinya adalah papan proyek tidak terpasang,  ”kata Dani (52) warga Desa Sedari saat berbincang dengan tintabiru.com, Kamis (07/09/17) kemarin.

Hal senada dikatakan pekerja proyek Ruang Terbuka Hijau (RTH) bahwa adukan semennya memang menggunakan air laut.

“Kami memang menggunakan air laut karena disini sulit ditemukan air tawar. Namun penggunaan air laut hanya pada pengerjaan proyek yang berada sebelah timur saja, karena sekarang kami sudah menggunakan air tawar. Mengenai papan proyek, sepengetahuan kami selama 2 tahun ikut kerja dengan bos kami, biasanya papan proyek akan dipasang pasca usainya pengerjaan,  ”terang Tanto (42), salah satu pekerja pada proyek tersebut.

Sementara itu, pembangunan 40 unit rutilahu yang dikerjakan oleh CV. Sabda Alam banyak menuai protes dari masyarakat penerima manfaat.

Protes ini dilontarkan karena dari awal pengerjaannya, besi yang dikirim kontraktor dengan ukuran 6 mm ditolak konsultan, dan hal tersebut diketahui oleh warga sekitar.

“Besi yang dikirim kontraktor ditolak oleh pihak konsultan, karena kontraktor proyek rutilahu ini mengirim besi dengan ukuran 6 mm, padahal seharusnya besi yang akan digunakan adalah besi dengan ukuran 10 mm. Namun akhirnya yang dipasang adalah besi dengan ukuran 8 mm. Sementara untuk kusen yang seharusnya memiliki lebar 9 cm hanya dibuatkan 7 cm, “kata salah seorang warga Desa Sedari yang identitasnya minta dirahasiakan.

Menyikapi pengerjaan proyek dengan anggaran milyaran rupiah di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya yang nyaris luput dari pengawasan, membuat berang Drs. Imron Rosadi selaku Ketua Karawang Monitoring Group (KMG).

Imron Rosadi mendesak Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Karawang untuk menindak tegas pihak-pihak terkait.

“Proyek di Desa Sedari Kecamatan Cibuaya adalah program 100 ribu Homestay di Desa Wisata melalui program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) yang bersumber dari APBN namun digelar tanpa pengawasan. Kami mendesak Kejaksaan Negeri Karawang untuk segera menggelar sidak ke lokasi tersebut, “tegas Imron Rosadi dengan nada kesal. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro
Tags:
author

Author: