Uniiik!! 5 Masjid di Indonesia ini Bangunannya Mirip Perahu

Ada 5 Masjid di Indonesia yang bangunannya mirip dengan perahu atau bahtera. Setidaknya, kelima Masjid tersebut bisa dijadikan sebagai tujuan wisata religi.

Yang pertama adalah Masjid Perahu Casablanca

Masjid unik ini diberi nama Masjid Al Munada Darrussalam Baiturrahman, letaknya berada di Jakarta Selatan. Untuk menemukan Masjid ini cukup sulit memang, karena letaknya berada di dalam gang sempit di kawasan Casblanca, Jakarta Selatan.

Masjid Perahu Casablanca

Selain bangunannya yang menyerupai perahu, banyak keunikan lain yang bisa ditemui di dalam Masjid Al – Munada Darrussalam Baiturrahman.

Bangunan menyerupai perahu ini, dijadikan sebagai tempat mengambil air wudhu bagi jama’ah yang akan menunaikan shalat. Keunikan lainnya adalah, atap menara Masjid yang berbentuk kerucut bersusun tiga serta ditutupi kayu sidrap. Tak hanya itu, di atap Masjid juga terdapat dua bilah pedang yang bersilang.

Di dalam Masjid juga terdapat tiang-tiang penyangga dari kayu jati yang diukir dengan tulisan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Yang lebih ajib lagi, ada Al – Qur’an raksasa yang diletakkan di dalam kotak kayu jati berukir, sebongkah fosil kayu, serta belasan bongkahan batu akik.

Menurut salah seorang pengurus di Masjid tersebut, Masjid unik ini dibangun oleh KH. Abdurrahman Ma’sum sekitar tahun 1960-an, karena terinspirasi dengan bahtera yang digunakan Nabi Nuh AS, saat bumi ini dilanda banjir bandang.

Yang Kedua adalah Masjid Perahu Cibarusah

Ukurannya yang kecil dan mungil, menjadikan bangunan ini lebih pantas disebut Musholla. Namun masyarakat di sekitar Cibarusah-Cikarang Kabupaten Bekasi, sering menyebutnya dengan nama Masjid Perahu.

Masjid Perahu Baitul Hamdi Cibarusah Bekasi

Nama Masjid ini adalah Baitul Hamdi, bangunannya mirip dengan Masjid Perahu yang berada di Casablanca, Jakarta Selatan. Selain karena adanya bangunan menyerupai perahu yang dijadikan sebagai tempat wudhu, bentuk atapnya juga bersusun tiga, dan terdapat dua bilah pedang di atasnya. Sementara, pada bagian pangkal atapnya ditutup dengan ukiran dan lafadz Allah.

Salah seorang sumber menuturkan, Musholla ini dibangun oleh Pangeran Senapati Nata Kusuma atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Sena sekitar tahun 1619. Mbah Sena disebut sebagai keturunan dari Pangeran Jayakarta Wijayakrama, Sultan terakhir dari kota Jayakarta.

Diceritakan, saat itu Pangeran Senapati melarikan diri dari penyerbuan tentara Belanda yang merebut pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan menyisiri pantai, Pangeran Senapati kemudian tiba di sebuah tempat yang berada wilayah Bekasi.

Sejak saat itu, Pangeran Senapati dan para pengikutnya kemudian menjadikan hutan yang ada di wilayah Cibarusah sebagai tempat pemukiman baru.

Diceritakan,saat wafatnya, jenazah Pangeran Senapati kemudian dimakamkan di belakang Masjid Baitul Hamdi. Pada waktu-waktu tertentu, makam keramat ini banyak diziarahi masyarakat muslim yang datang dari berbagai daerah.

Yang Ketiga adalah Masjid Perahu Sukabumi 

Masjid perahu di Sukabumi ini dinamai sebagai Masjid Al Hikmah. Masjid ini sengaja dibangun berbentuk menyerupai perahu oleh penggagasnya, yakni KH. Abdul Aziz.

Masjid Perahu Al-Hikmah Cisaat Sukabumi

Dikatakan, KH. Abdul Aziz sangat menyukai perahu atau kapal laut, karena menurutnya, perahu atau kapal laut adalah satu-satunya kendaraan yang mampu mengarungi samudera untuk menembus dunia.

Pada bagian dasar Masjid ini, terdapat sebuah kolam berukuran 100 meter persegi, sehingga bila dilihat akan sangat mirip dengan sebuah kapal yang sedang berada di atas air laut.Tak hanya itu, di sisi kiri dan kanan Masjid, terdapat sebuah jangkar.

Masjid Perahu Al Hikmah terletak di Kampung Cikiray Kidul, RT. 02 RW. 09, Desa Sukamanah, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Selain Masjid ini berlantai tiga, Masjid ini juga difungsikan sebagai Pondok Pesantren Yatim Piatu.

Yang Keempat adalah Masjid Perahu Cimahi

Masjid Perahu Cimahi ini dinamai Masjid Al – Baakhirah. Masjid ini merupakan realisasi dari niat suci penggagasnya, Budianto. Masjid ini terletak di Jalan Bapak Ampi, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi Jawa Barat.

Budianto adalah eks nahkoda yang pertama kali membawa kapal Kerinci ke Indonesia dari tempat perakitannya yang berada di Jerman.

Masjid Perahu Al-Baakhirah Cimahi

Selain sebagai Eks nahkoda kapal Kerinci, Budianto juga pernah menjadi nahkoda kapal Kampuna dan Tampomas II.

Pada tahun 2002, Budianto menyampaikan keinginannya untuk membangun sebuah Masjid yang berbentuk kapal laut.

Sayang, cita-cita Budianto belum terealisasikan karena sebelum mewujudkan keinginannya, Budianto keburu dipanggil yang maha kuasa.

Pembangunan Masjid perahu Al – Baakhirah kemudian diwujudkan oleh keluarga Almarhum pada tahun 2015 dan selesai pada April 2016.

Pembangunan Masjid ini diarsetiki Testa Radenta, putera bungsu dari Budianto. Bangunan Masjid ini mirip dengan Kapal Kerinci, hal itu merupakan hasil inspirasi Testa Radenta untuk mengenang mendiang ayahnya.

Yang Kelima adalah Masjid Perahu semarang

Masjid unik ini berada di kampung pinggiran Semarang wilayah Barat. Tepatnya di Jalan Kyai Padak RT 5/RW 5, Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, Jawa Tengah. Sekitar 15 kilometer dari bandara Ahmad Yani. Dari bundaran Kalibanteng ke arah barat melewati UIN Semarang menuju BSB belok ke kanan. Di kampung dekat hutan itulah, Kyai Achmad membangun masjid unik ini seluas 2.500 meter persegi.

Bentuknya mirip kapal memanjang berlantai tiga. Karena keunikannya, masjid ini langsung viral di media sosial. Masjid Kapal ini dibangun berlantai tiga. Lantai pertama ruang pertemuan, lantai dua untuk masjid, dan lantai tiga untuk aktivitas mengajar dan balai kerja.

Masjid Perahu As-Safinatun Najah Semarang

Husein, orang yang dipercaya mengawasi proyek masjid menjelaskan pemilik masjid Kyai Achmad memang punya mimpi membuat masjid mirip kapal Nabi Nuh AS.

“Sambil mengingat sejarah, untuk kembali mengajak manusia untuk mengingat Tuhan, maka dibuatlah masjid ini. Proses pembangunannya sudah 90 persen, “ujar husein.

Kyai Achmad merupakan ulama Semarang yang juga seorang guru agama. Masjid seluas 2.500 meter persegi itu dibangun layaknya perahu dengan panjang 50 m, lebar 17 meter, dan tinggi 14 meter. Memiliki bentuk kapal besar lengkap dengan jendela berbentuk bulat, puritan, haluan, dan aksesoris kapal lainnya.

Masjid ini oleh Kyai Achmad dinamai Masjid As-Safinatun Najah. Selama pengerjaannya telah melibatkan 40 tukang, dan telah berlangsung 1,5 tahun.  Bahan bangunannya terdiri dari batu bata dengan total biaya mencapai Rp 5,5 miliar

“Masjid ini memiliki enam pintu utama di samping kanan dan kiri dan memiliki 74 bendera berbentuk bulat, digambar oleh seorang arsitek, “ungkap husein.

Aksesoris lainnya, di Masjid ini akan dibangun kolam air yang berada di pinggir bangunan agar benar-benar nampak seperti di lautan. Karena keunikannya, Husein tak menampik jika kedepan tempat ini menjadi sebuah destinasi wisata religi. Sekarang saja meski belum sepenuhnya rampung, sudah banyak warga yang datang untuk melihat dan berfoto selfie. Jika memang menjadi wisata religi, pihaknya berharap ada perbaikan jalan menuju Podorejo. Karena akses jalan yang ada saat ini masih sangat sempit.

Keunikan lain dari masjid ini, letaknya berada di tengah area hutan dan sawah menjadi oase tersendiri bagi pengunjung. Rubai (55), salah seorang pengunjung dari Jatingaleh Semarang, mengaku penasaran dengan masjid kapal besar yang ada di pelosok hutan. Dia kagum dan bangga, konsep anti mainstream membuat desain masjid bisa diterapkan dan disukai banyak orang. “Tiga lantai semua bagus arsiteknya, semoga islam bisa berkembang disini dengan bagus, “ucapnya..

Sementara, Kepala Bidang Pembinaan Industri Pariwisata Kota Semarang, Giarsito Sapto, menyambut baik berdirinya masjid ini. Karena keunikanya, dirinya optimis akan menjadi daya tarik wisata religi masyarakat. “Pemkot memang akan mengembangkan wisata religi. Ini obyek yang unik, “katanya.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, destinasi baru itu tentu bisa bersambut dengan pelaksanaan Semarang Great Sale 2017, yang telah kick off pada 7 April sampai 7 Mei 2017 lalu. “Silakan berwisata belanja, wisata kuliner, sekaligus wisata ziarah di destinasi menarik di Kota Lumpia, “ungkap Menpar.

Arief Yahya juga meminta kepada masyarakat yang berwisata, untuk berfoto dan meng-upload gambar-gambar fotonya di media sosial. ” Setiap wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, pasti punya sensasi dan pengalaman. Silakan berbagi pengalaman sembari eksis di media sosial, “tandas dia. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin