Hindari ‘Impor Atlit’ di Purwakarta, Kang Dedi Bangun Sport Center Berkelas

Oleh: Lita Agustin

LAGI-lagi, terobosan dilakukan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, dalam membangun daerahnya. Kali ini, terobosan dilakukan di bidang olahraga. Yakni, dengan membangun sarana olahraga terlengkap. Tempat olah kebugaran ini semuanya berpusat di Wahana Olahraga Jaya Perkasa yang dulu dikenal dengan GOR Purnawarman.

8 (1)Sebenarnya, Kabupaten Purwakarta sendiri sudah mempunyai sarana olah kebugaran, untuk kegiatan jogging, yakni di area lingkar luar Taman Sri Baduga. Namun bagi Kang Dedi (sapaan akrab Dedi Mulyadi), itu belumlah cukup untuk menciptakan bibit handal di bidang olahraga.

5 (5)Terlebih, orang nomor satu di Pemkab Purwakarta ini ingin melenyapkan budaya ‘comot atlit’ alias melakukan impor atlit untuk setiap event olahraga di tingkat provinsi. Sebab bagi dia, budaya itu malah bisa menghambat kelahiran bibit unggul Purwakarta di bidang olahraga.

“Selain prestasi, kita juga ingin memiliki bibit-bibit handal di bidang olahraga. Adanya ‘comot atlit’ itu malah bisa merugikan kita sendiri. Untuk itu, kita membangun sarana olahraga yang lengkap, untuk melakukan pembinaan dan sarana bagi masyarakat Purwakarta, penggiat olahraga,” ujar Kag Dedi, di sela kegiatan olahraga rutinnya pagi ini Selasa (17/1) di lokasi tersebut.

6Beranjak dari itu semua, melalui gagasannya, Pemkab Purwakarta membangun Wahana Olahraga Jaya Perkasa. Pembangunan kompleks olahraga ini dimulai sejak pertengahan tahun 2015. Setelah itu, terus disempurnakan, lengkap dengan akses jalan yang diperlebar.

Pintu masuk menuju kompleks ini pun akan diubah dari Jl Kapten Halim Pasar Rebo ke Jalan Basuki Rahmat Parcom Purwakarta. “Akses jalan dari Parapatan Combro itulah yang akan kami perlebar. Tahun 2018 sudah bisa selesai,” lanjutnya.

Di kompleks yang berada diatas lahan seluas 12 hektar ini, berdiri aneka venue. Diantaranya, venue lapangan basket, futsal, bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, tak ketinggalan venue olahraga bela diri dan anggar.

“Penambahan fasilitas akan terus dilakukan, terutama lapangan sepakbola dan kolam renang yang dilengkapi dengan taman rekreasi keluarga. Ini dilakukan dalam rangka memberikan banyak alternatif jenis olahraga yang bisa dipilih oleh masyarakat setempat,” tambahnya.

Selain berfungsi sebagai tempat berolahraga gratis bagi masyarakat, Wahana Olahraga Jaya Perkasa ini pun diklaim dapat menjadi salah satu ikon pariwisata di kabupaten yang terkenal dengan Air Mancur Taman Sri Baduga ini dengan cara membangun Diorama Olahraga yang berisi prestasi olahraga Indonesia dari masa ke masa.

“Nanti setelah berolahraga bisa terus berwisata ke Diorama Olahraga, sistemnya digital seperti diorama lain yang sudah berhasil dibangun,” katanya.

Menurut rencana, tak lama lagi seluruh fasilitas ini sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Purwakarta. Penyelesaian detail akhir dari setiap venue sedang dikebut pengerjaannya oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta.

Bicara soal pembinaan dan penciptaan bibit unggul di bidang olahraga, pria yang kerap mengenakan ikat kepala ini mengatakan program yang dilaksanakan sejak pertengahan Tahun 2015 itu sengaja ia implementasikan tidak berdekatan dengan momen kompetisi olahraga dengan tujuan pembinaan atlit Purwakarta secara jangka panjang.

“Ya selain menciptakan fasilitas untuk masyarakat, pembinaan atlit juga target jangka panjang kita,” kata Dedi.

Pembinaan atlit di daerah yang ia pimpin di masa jabatannya yang kedua ini untuk menghindari ‘comot’ atlit dari daerah lain. Ia menilai kebiasaan tidak etis tersebut sudah menjadi rahasia umum dan harus segera dihilangkan melalui maksimalisasi potensi atlit daerah.

“Kalau momen PON dan PORDA itu kebanyakan bukan atlit daerah setempat yang bertanding, saya kira ini tidak etis ya. Ini butuh political will dari pemimpin daerah mulai dari penataan fasilitas dan pembinaan atlit itu sendiri,” katanya menambahkan.

Suami Hj Anne Ratna Mustika ini pun mencontohkan keberhasilan Purwakarta membina atlit sepakbola yang berasal dari desa-desa di Purwakarta. Tim sepakbola yang namanya dijadikan nama baru bagi GOR Purnawarman ini sudah mampu berbicara bukan saja di tingkat nasional melainkan internasional.

“Kita bisa lihat tim sepakbola ASAD 313 Jaya Perkasa, bibitnya dari desa tapi mampu berbicara banyak di semua kompetisi yang mereka ikuti. Timnas Pelajar saja pernah kerepotan menghadapi mereka,” jelasnya.

Melalui pembinaan jangka panjang, Dedi berharap dunia sepakbola Purwakarta dapat lepas dari stigma ‘mati suri. Menurutnya, sumber daya atlit sepakbola jauh memiliki nilai penting dibanding dengan menggelontorkan dana untuk membiayai klub profesional.

“Kita bangun pondasinya saja dulu, melalui sekolah sepakbola lahir talenta berkualitas, kalau mengelola klub kan butuh dana besar, apalagi kompetisinya berjenjang,” pungkasnya. (*)

This site is using SEO Baclinks plugin created by InfoMotru.ro and Locco.Ro

About admin